Sandi Ajak Pemda Terapkan Strategi CHSE

Wisata-78 hit 27-12-2020 21:06
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno. (Dok : Istimewa)
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno. (Dok : Istimewa)

Penulis: Arzil

Jakarta, Arunala -- Kesehatan dan keselamatan di destinasi wisata di selama liburan Natal 2020 dan Tahun Baru 2021, menjadi jadi perhatian khusus Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) yang baru, Sandiaga Salahuddin Uno.

Makanya dia lakukan kerja sama dengan pemerintah daerah (pemda) tempat yang memiliki destinasi wisata.

"Kita harus menyiapkan segala aspek untuk berbenah, tentunya yang harus kita dulukan adalah aspek kesehatan, maka berbenah harus disiapkan secara detail, mulai dari kuliner, fashion, kriya atau kerajinan tangan, tari-tarian, dan lainnya," papar Sandi seperti dikutip dari bisnis.com, Minggu (27/12).

Baca Juga

Sandi menyampaikan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menginstruksikan untuk memastikan setiap aspek kesehatan dan keselamatan di setiap destinasi pariwisata bisa diterapkan strategis.

Instruksi tersebut paparnya, lewat penerapan CHSE atau K4, yakni Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainability (Kelestarian Lingkungan).

Penerapan CHSE ini termasuk ke dalam strategi adaptasi. Salah satu dari tiga platform yang diusung Sandi dalam percepatan pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia. Selain adaptasi, strategi lainnya adalah inovasi dan kolaborasi.

"CHSE ini adalah sebuah "vaksin" daya tahan dan daya bangkit bagi pariwisata dan ekonomi kreatif. Jadi sebelum vaksin ada, kita punya vaksin pariwisata untuk mendorong pelaku usaha, jadi tugas kita untuk menyosialisasikan sertifikasi CHSE ke depannya," ujarnya.

Sandi menambahkan, targetnya pada 2020 sebanyak 6.626 pelaku pariwisata tersertifikasi CHSE sudah tercapai. "Semoga di tahun depan terus bertambah," ungkapnya.

Sandi juga mengingatkan kepada seluruh pemerintah daerah (pemda) untuk tidak hanya bergerak cepat, tapi gas penuh untuk pemulihan pariwisata dan ekonomi kreatif jangka panjang.

Sandi menyampaikan, pandemi telah memberikan dampak kepada para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif.

"Kita mendata ada 30 juta pelaku sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang terpuruk, mulai dari informal, hingga pelaku usaha mikro dan besar sangat terdampak dan harus segera dibantu," jelas Sandi.

Untuk pemulihan jangka panjang tersebut, ungkap Sandi, dilakukan dengan menumbuhkan penyediaan atau suplai yang meliputi persiapan destinasi wisata, membangun infrastruktur, menciptakan dan membangun daya tarik. Kemudian monitoring protokol CHSE di setiap destinasi wisata, peningkatan kualitas SDM, serta peningkatan kualitas dan kuantitas produk ekonomi kreatif.

Adapun, pertumbuhan permintaan dapat dilakukan dengan menciptakan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan, memperluas konektivitas wisatawan, pemberian insentif atau paket wisata, optimalisasi kegiatan MICE (meeting, incentive, conferencing, and exhibition) di destinasi wisata, pemberian intensif peningkatan daya beli produk lokal dan penciptaan lapangan kerja serta hibah pariwisata melalui transfer daerah untuk hotel, restoran, dan pemda.

"Lewat seluruh langkah tersebut, saya merasa optimistis dapat membangkitkan geliat pariwisata dan ekonomi kreatif nusantara," katanya.

Dia menambahkan rasa optimisme akan makin kuat dengan adanya keyakinan akan dilibatkannya seluruh pihak, mulai dari pelaku usaha, media, komunitas, hingga semua unsur pemangku kepentingan. (*)

Komentar