Tanahdatar, Arunala.com--Tim Pusat Studi Bencana dan Pusat Tanggap Darurat Universitas Andalas turun ke wilayah yang terdampak banjir bandang di Kabupaten Agam dan Tanahdatar. Tim ini tidak hanya menyerahkan bantuan, tetapi juga melakukan studi lapangan dan menyusun solusi penanggulangan bencana yang komprehensif.
Tim tersebut terdiri dari Prof Febrin Anas Ismail, Prof Abdul Hakam, Prof Fauzan, Prof Bambang Istijono, Gusti Sumarsih M Biomed, Mohd Jamil, M Biomed, Ns Mahathir, dan Ns Zafitra Patriotga serta Yenny Narny Ph D.
"Penyebab banjir bandang diperkirakan adanya tumpukan material pohon tumbang pada lembah sungai di hulu Batang Anai yang membentuk bendungan alam, dampak getaran gempa vulkanik Gunung Marapi dan curah hujan lebih dari enam jam, mengakibatkan runtuhnya bendungan alam menjadi penyebab banjir bandang atau galodo," kata Prof Febrin Anas.
Kemudian, kata Febrin Anas, kemiringan dasar sungai Batang Anai yang terjal, terlihat kecepatan air relatif tinggi saat kondisi air normal. Limpasan yang terjadi akibat efek penyumbatan pada daerah jembatan dan penyempitan alur sungai.
"Lalu, loncatan atau overtopping pada alur yang berkelok, dan limpasan yang terjadi karena pengurangan kapasitas alur sungai akibat pengendapan material angkutan, serta sempadan sungai yang belum diterapkan. Contoh banyak bangunan yang berada dipinggiran sungai," ungkapnya.
Selain itu, Prof Febrin mengungkapkan diperkirakan material yang disemburkan erupsi Marapi telah mencapai 300 ribu meter kubik. “Material itu sebagian menumpuk pada hulu sungai yang bisa menyebabkan banjir lahar dingin, dan diharapkan kegiatan pemetaan pada sungai prioritas yang paling berbahaya dan potensi menyebabkan banjir bandang,” ujar Guru Besar Fakultas Teknik ini.
Banjir bandang lahar dingin dikatakannya, telah terjadi beberapa hari terakhir yang mengakibatkan setidaknya 67 jiwa meninggal per hari ini, ratusan rumah rusak berat atau sedang dan lahan pertanian rusak tertimbun lumpur dan kayu-kayuannext


Komentar