.
Bagi dirinya, semestinya setiap gerakkan para seniman dan budayawan melalui kegiatan yang dilakukan ada pesan sosial politik yang mesti disampaikan, bukan hanya estetika semata.
"Saya juga menilai, pesan-pesan bernada protes biasanya dibicarakan berulang-ulang. padahal pada konteks itu bisa dikatakan seni pertunjukan sangat kuat untuk menjadi sebuah gerakkan sosial politik untuk bisa mengubah mindset pemangku kepentingan," tukas Abdulah Khusairi lagi.
Sementara salah seorang anggota presidium FPS Sumbar, Hermawan menyebutkan, diskusi budaya yang digelar FPS ini tidak lain bentuk protes para seniman dan budayawan Sumbar atas pentas atau tempat mereka menggeluarkan ekspresi mereka dalam karya seni.
"Sejak tempat seniman dan budayawan berekspresi di gedung Taman Budaya tidak ada lagi, seni pertunjukan dan pertunjukkan seni bisa dikatakan memudar, bila kami akan adakan pentas seni terpaksa hanya gunakan laga-laga yang ada di sebelah kiri halaman dalam pintu masuk Taman Budaya, itu sudah berlangsung beberapa tahun belakangan," kata Hermawan. (*)


Komentar