Media dilibatkan untuk promosi. "Kami sadar, promosi penting untuk menaikkan nilai produk. Tapi yang lebih penting lagi, sumber daya manusia-nya harus kuat. Percuma kita kaya sumber daya kalau manusianya tidak mampu mengelolanya," ucapnya.
Berbagai pelatihan dilakukan. Mulai dari pelatihan produksi, pengemasan, hingga pemasaran digital. Bahkan Astra memfasilitasi pelatihan kewirausahaan bagi kelompok muda. Hasilnya, produk olahan nipah Ulakan kini sudah memiliki sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan menjadi oleh-oleh wajib bagi wisatawan yang datang ke Padangpariaman.
Kapasitas sumber daya manusia dibangun lewat pelatihan mandiri hingga fasilitasi produksi. Wisatawan yang datang ke Ulakan pun kini bisa menikmati olahan buah nipah. Sebuah perjalanan kurang lebih 10 tahun yang membuktikan potensi alam bila dikelola dengan baik bisa menjadi berkah.
Kelompok-kelompok KUEN memiliki lapak sendiri. Mereka mengolah buah nipah tidak hanya dari Ulakan, tetapi juga disuplai dari luar nagari Pesisir Selatan, Pasaman Barat, Kota Padang. Ini dikarenakan permintaan nikah tinggi. Pasalnya, kebutuhan buah nipah mencapai 1.000-1.500 tandan per hari.
Produk unggulan yang digemari berupa es krim buah nipah, jus buah nipah, stik nipah, dodol nipah, limbah buah dijadikan pupuk kompos, arang briket, kerajinan souvenir. Studi tentang diversifikasi pangan lokal berbasis buah nipah juga sudah menyebutkan potensi industri.
Nipah yang Mengubah Hidup
Hari ini, hampir di setiap sudut Nagari Ulakan, tampak tampah berisi buah nipah yang dijemur. Kegiatan yang dulu dianggap tak penting, kini menjadi pemandangan lumrah. Omzet kelompok usaha meningkat. Antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per hari, bahkan bisa dua kali lipat saat akhir pekan. Nipah bukan lagi sekadar tumbuhan pesisir. Ia telah menjadi denyut ekonomi.
Hal tersebut dirasakan oleh dua perempuan pesisir yang kini menjadi wajah ekonomi baru nagari. Elita (52) dan Elda (40). Sore itu, di halaman rumahnya, Elita membalik satu per satu buah nipah yang dijemur di atas tampah besar. Gerakannya teratur, penuh pengalaman.
"Awalnya saya tak yakin. Apa betul nipah bisa dibuat makanan?" ujarnya sambil tertawa kecil.Ketika program pengolahan nipah dimulai, ia mencoba ikut. "Orang bilang saya buang-buang waktu. Tapi saya nekad saja," katanya.
Usahanya dimulai dari membuat stik nipah. Perlahan, pembelinya bertambah. Ia menambah tampah, memperluas area jemur, dan mengajak tetangga membantu. Kini ia mampu menghasilkan Rp400 ribu hingga Rp700 ribu per hari. "Siapa sangka ya? Nipah yang dulu dianggap tak berguna, sekarang menghidupi kami," ucapnya sambil menatap jemuran buah nipah yang mengilap di bawah mataharinext


Komentar