RSUP Dr. M. Djamil Jadi Pusat Pelatihan Laparoskopi Nasional

Kesehatan- 28-11-2025 18:24
Penandatanganan kerja sama Fellowship Endo-Laparoscopic antara RSUP Dr. M. Djamil dan Kolegium Bedah yang ditandatangani oleh Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua dan Ketua Kolegium Bedah dr. Supriyanto Dharmoredjo, Sp.B, FINACS, M.Kes. Penandatanganan kerja sama tersebut disaksikan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan dr. Azhar Jaya, SH, SKM, MARS. IST
Penandatanganan kerja sama Fellowship Endo-Laparoscopic antara RSUP Dr. M. Djamil dan Kolegium Bedah yang ditandatangani oleh Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua dan Ketua Kolegium Bedah dr. Supriyanto Dharmoredjo, Sp.B, FINACS, M.Kes. Penandatanganan kerja sama tersebut disaksikan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan dr. Azhar Jaya, SH, SKM, MARS. IST

Padang, Arunala.com--RSUP Dr. M. Djamil ditunjuk secara resmi oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sebagaiRumah Sakit Pengampu Nasional untuk memimpin pengembangan layanan bedah minimal invasif, atau yang dikenal sebagai laparoskopi, di seluruh Indonesia. Penunjukan ini merupakan bagian dari komitmen kuat Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, untuk merevolusi layanan bedah di 514 kabupaten/kota, menggantikan dominasi metode bedah konvensional yang berisiko tinggi.

Penegasan ini disampaikan Menkes dalam Colorectal Fellowship Endo-Laparoscopy Fellowship and Endoscopy Workshop yang diadakan di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Jumat (28/11/2025).

Menkes Budi Gunadi Sadikin menjelaskan penyebarluasan teknik laparoskopi akan difokuskan pada empat jenis kasus bedah yang paling banyak terjadi. Kasus yang paling dominan adalah kantung empedu dengan sekitar 250 ribu kasus per tahun, diikuti oleh usus buntud engan 150 ribu kasus, hernia dengan 70-80 ribu kasus, dan yang keempat adalah kasus-kasus kandungan.

Menkes menyoroti ironisnya, 60 persen hingga 80 persen dari keempat kasus utama ini di Indonesia masih dilakukan dengan teknik sayatan terbuka atau teknik kuno. Prosedur lama ini menyebabkan risiko morbiditas yang tinggi dan memerlukan masa rawat inap (length of stay) yang panjang. "Oleh karena itu, kita bertekad memperluas layanan laparoskopi," tegasnya.

Untuk merealisasikan target ini, Kemenkes telah menunjuk RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit pengampu untuk melatih dokter-dokter di seluruh 514 kabupaten/kota di Indonesia. Menkes memuji kesiapan RSUP Dr. M. Djamil, menyebut penunjukan ini didasarkan pada dua alasan utama.

Yakni rumah sakit ini telah menjadi pusat fellowship kolorektal, dan yang terpenting, rumah sakit ini memiliki lima dokter bedah digestif yang bersedia berbagi ilmu ke seluruh dokter bedah di Indonesia. Menkes berharap RSUP Dr. M. Djamil dapat mengampu seluruh kabupaten/kota agar layanan laparoskopi untuk empat kasus tersebut dapat meratanext

Komentar