Bukittinggi, Arunala.com - Pertemuan Gubernur Sumbar, Mahyeldi dengan Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, mengapung wacana menjadikan Kota Bukittinggi sebagai Daerah Istimewa, setara dengan DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Wacana ini mengemukan, karena penilaian Wali Kota Bukittinggi, Ramlan, bahwa kotanya merupakan salah satu kota terpenting di Sumbar.
"Kota ini pernah menjadi ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada masa awal kemerdekaan," sebut Ramlan.
Ia beralasan, Bukittinggi menjadi ibu kota negara setelah Jakarta dan Yogyakarta, tepatnya saat dibentuknya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada 19 Desember 1948.
Ramlan menambahkan, saat ini Pemerintah Kota Bukittinggi terus berupaya meyakinkan pihak-pihak terkait untuk mendukung pemberian status khusus tersebut.
Bahkan dirinya juga mengungkapkan rencana untuk menghadirkan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai narasumber dalam seminar, mengingat pengalaman Yogyakarta sebagai daerah istimewa.
Adapun pendapat Gubernur Mahyeldi, bahwa wacana tersebut perlu dikaji secara mendalam dan harus bertumpu pada aspirasi masyarakat, termasuk Niniak Mamak, tokoh adat, tokoh masyarakat, cadiak pandai, serta pemangku kepentingan lainnya, baik di daerah maupun di tingkat pusat.
"Perlu adanya dukungan penuh dari berbagai pihak. Dengan latar belakang sejarahnya, Bukittinggi memiliki nilai historis yang setara dengan daerah-daerah yang telah memiliki status keistimewaan di tingkat nasional," kata Mahyeldi kemarin.
Ia juga menegaskan, Pemko Bukittinggi perlu menggelar seminar atau forum akademik dengan menghadirkan narasumber yang kompeten guna memperkuat argumentasi bahwa Bukittinggi layak memperoleh status daerah khusus atau istimewa. (dpg)


Komentar