Pariaman, Arunala.com - Sebanyak 22 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Pariaman menerima ijazah Paket A, B dan C yang diserahkan oleh Wali Kota Pariaman, Yota Balad.
Penyerahaan ijazah ini diselenggarakan pihak Lapas Kelas II B Pariaman di musala yang ada di komplek tersebut, Selasa (7/4/2026).
"Ijazah paket A, B dan C yang diterima warga binaan ini merupakan program integrasi pendidikan Lapas dengan Dinas Pendidikan Kota Pariaman," kata Yota Balad.
Program ini, sebut dia, adalah investasi kemanusiaan yang sangat berharga. Terima kasih telah memanusiakan manusia dan memberikan harapan bagi mereka.
"Saya secara pribadi merasa sangat bangga melihat semangat warga binaan dalam menyelesaikan jenjang pendidikan meski berada di dalam masa pembinaan," tukasnya.
Yota Balad menegaskan, pendidikan adalah hak segala bangsa, tanpa memandang status sosial maupun kondisi fisik.
"Dan ijazah ini menjadi bukti bahwa berada di balik jeruji besi bukanlah penghalang untuk tetap produktif dan menimba ilmu," ujarnya.
Yota Balad juga mengapresiasi kepada Kepala Lapas Kelas IIB Pariaman dan jajaran, serta Dinas Pendidikan, atas kolaborasi yang luar biasa ini.
Kepala Lapas Kelas II B Pariaman, Boy Irfan Arslan, mengatakan, ijazah paket yang diterima 22 warga binaannya, buah hasil kerja keras mereka.
"Lebih dari itu, adanya niat untuk berubah itu membuahkan hasil. Ijazah yang saudara terima hari ini bukan sekadar lembaran kertas," kata Boy Irfan.
Ia menyampaikan, program ini merupakan wujud nyata dari konsep restorative justice dan reintegrasi sosial, di mana negara hadir untuk membina, bukan sekadar menghukum.
"Kami di Lapas Pariaman memiliki prinsip bahwa tembok penjara boleh membatasi gerak, tapi tidak boleh membatasi masa depan," tukasnya.
Untuk warga binaan yang mendapat ijazahm, Boy Irfan mengatakan, itu adalah bukti kerja keras dan niat mereka untuk berubah menjadi lebih baik.
"Ijazah yang saudara terima hari ini bukan sekadar lembaran kertas, melainkan kunci untuk membuka pintu masa depan yang lebih baik," tuturnya.
Boy Irfan juga mengingatkan, jangan pernah merasa malu dengan masa lalu.
"Jadikan ijazah ini sebagai modal untuk kembali ke masyarakat dengan wajah tegak, menjadi pribadi yang mandiri, dan tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama," pungkasnya. (cpt)


Komentar