.
Kenaikan jumlah pengguna ini juga berbanding lurus dengan militansi mereka dalam bertransaksi. Sepanjang tahun 2025, total nilai transaksi yang mengalir melalui wondr by BNI menembus angka fantastis Rp1.198 triliun, atau meroket 5,2 kali lipat dari tahun sebelumnya. Secara volume, aplikasi ini mengarsiteki hingga 1,34 miliar transaksi, melonjak 5,5 kali lipat secara tahunan (year-on-year).
Namun di balik deretan angka statistik yang masif itu, sejatinya ada cerita kemanusiaan yang jauh lebih bernilai. Ini adalah perihal adaptasi dan perjuangan menjinakkan waktu.
Kisah lain datang dari Meri Andayani (55). Puluhan tahun berkarier sebagai pengacara di Kota Padang membuat Meri sangat akrab dengan dunia analog, tumpukan dokumen fisik, aroma kertas perkara, buku tabungan tebal, dan keharusan bertransaksi tatap muka. Baginya, ada kepuasan psikologis tersendiri ketika menggenggam buku tabungan dan bercakap langsung dengan petugas di balik meja konter bank. Kebiasaan itu sudah mengakar dan menjadi ritme hidup yang nyaman selama bertahun-tahun.
Karena itu, ketika arus digitalisasi mulai mendisrupsi dunia hukum dan perbankan, Meri termasuk kelompok yang memilih melangkah perlahan dan penuh kehati-hatian. Namun, tuntutan profesi tidak bisa menunggu. Di tengah jadwal sidang yang padat, jadwal konsultasi klien yang berkejaran, hingga perjalanan dinas ke berbagai daerah, Meri mulai mentok pada satu kesadaran, waktu adalah aset yang paling mahal.
"Awalnya saya skeptis dan lebih mantap bertransaksi langsung di kantor cabang. Tapi setelah dipandu dan mencoba sendiri, ternyata kepraktisannya mengubah cara kerja saya," aku Meri.
Kini, setelah akrab dengan wondr by BNI, keterbatasan jam operasional bank tidak lagi menjadi barikade bagi mobilitasnya. Saat sedang mendampingi klien di luar kota atau menunggu giliran sidang di pengadilan, ia tetap bisa mengeksekusi transfer honorarium asisten atau membayar biaya perkara tepat waktu melalui ponselnya.
"Kalau sedang di luar kota menangani perkara hukum, saya tidak perlu lagi panik memikirkan di mana kantor cabang terdekat atau mencari-cari ATM. Sangat memangkas beban kerja," tutur alumni Universitas Bung Hatta ini.
Bagi Meri, teknologi bukan sekadar alat bantu, melainkan ruang baru yang membuatnya lebih produktif. Waktu berharga yang dulunya habis terbuang di jalan atau di ruang tunggu bank, kini bisa ia alokasikan untuk mematangkan strategi hukum klien-nya. "Semuanya serba cepat sekarang. Kuncinya adalah kemauan untuk belajar memahami fiturnya, dan tentu saja tetap disiplin menjaga keamanan akun kita," pesannyanext


Komentar