Padang, Arunala.com—Gemerlap cahaya panggung perlahan meredup sebelum kembali menyala menerangi lintasan catwalk. Dentuman musik kemudian mengisi ruang The ZHM Premiere Hotel Padang, Senin (10/8/2026) malam, ketika satu per satu model mulai melangkah membawa koleksi penutup Padang Fashion Summit (PFS) 2026.
Malam penutupan yang menjadi bagian dari rangkaian HUT ke-357 Kota Padang itu menghadirkan pertemuan dua dunia yang berbeda. Inspirasi kehidupan kaum Bedouin di Jazirah Arab diterjemahkan ke dalam bahasa mode Fomalhaut Zamel, lalu dipertemukan dengan kekayaan wastra Sumatera Barat.
Bukan sekadar menghadirkan busana bernuansa etnik, desainer nasional asal Kota Padang tersebut menjadikan tenun Sumatera Barat sebagai bagian utama dari konstruksi koleksinya. Karakter busana masyarakat Bedouin yang lekat dengan pakaian berlapis dan penggunaan sal diterjemahkan kembali melalui pendekatan desain yang lebih modern.
Sebanyak 14 outfit menjadi penutup fashion parade Fomalhaut Zamel tadi malam. Delapan outfit perempuan dan enam outfit laki-laki tampil bergantian di atas catwalk dengan karakter yang kuat, tenang, sekaligus penuh nuansa.
Koleksi tersebut sengaja dirancang untuk memiliki hubungan dengan tema besar PFS 2026, Manaruko Rupo. Fomal memilih pendekatan etnik sebagai pintu masuk untuk menerjemahkan tema tersebut, sembari membawa identitas lokal Sumatera Barat ke dalam eksplorasi desain yang terinspirasi dari budaya gurun.
"Malam ini (tadi malam, red) ada delapan outfit female dan enam outfit male. Tema koleksi kali ini etnik karena ingin relate dengan tema Padang Fashion Summit, Manaruko Rupo," ujar Fomalhaut Zamel usai penutupan event.
Bagi Fomalhaut, koleksi yang ditampilkan dalam sebuah fashion show tidak lahir dari satu gagasan yang berdiri sendiri. Setiap koleksi biasanya memiliki tema tertentu yang menjadi fondasi sejak proses perancangan dimulai.
Kali ini, perhatian Fomalhaut tertuju pada kehidupan masyarakat Bedouin yang dikenal sebagai kelompok masyarakat nomaden di kawasan Jazirah Arab. Kehidupan mereka yang beradaptasi dengan kondisi gurun menjadi inspirasi utama dalam membangun karakter koleksi. "Biasanya koleksi Fomalhaut Zamel itu tematik. Koleksi kali ini terinspirasi dari kehidupan kaum Bedouin di Jazirah Arab," jelasnyanext


Komentar