.
Hubungan tersebut, jelas Mahyeldi, diharapkan terus berkembang dan menjadi bagian dari upaya mempertemukan kembali diaspora Minangkabau dengan tanah leluhurnya.
Dirinya mengajak rombongan memanfaatkan kunjungan tersebut untuk menelusuri sejarah, kampung halaman, serta hubungan kekerabatan di Sumbar.
Ia juga berharap pengalaman yang diperoleh selama berada di Ranah Minang dapat dibagikan kepada masyarakat di Malaysia sehingga ikatan ranah dan rantau semakin kuat.
Sementara itu, Ketua Delegasi Minang Diaspora Network Global, Profesor Madya Nor Noolalisch A.B. Wahab dari Universiti Sains Islam Malaysia mengatakan kunjungan tersebut diikuti akademisi dari Universiti Sains Islam Malaysia dan Universiti Kebangsaan Malaysia.
Selain mempererat silaturahmi, rombongan juga menjajaki peluang kerja sama dalam pelestarian kebudayaan Minangkabau, khususnya warisan budaya takbenda.
Ia mengatakan, masyarakat keturunan Minangkabau di Negeri Sembilan masih mempertahankan berbagai unsur budaya yang memiliki kemiripan dengan Sumbar, mulai dari bahasa, makanan, pola kehidupan keluarga hingga tradisi menjaga hubungan kekerabatan.
Namun, sebagian warisan tersebut dinilai perlu didokumentasikan secara lebih sistematis agar tetap terjaga.
"Banyak perkara tentang Minangkabau di Negeri Sembilan yang ditampakkan secara langsung sejak kecil. Kita mungkin tidak perasan, tetapi jati diri Minangkabau itu tetap ada," ungkapnya.
Nor Noolalisch berharap kunjungan selama sekitar satu pekan di Sumbar tersebut menjadi awal bagi kerja sama yang lebih berkelanjutan antara akademisi, komunitas diaspora, dan masyarakat di Ranah Minang, terutama dalam pelestarian sejarah dan budaya Minangkabau. (*/dpg)


Komentar