Albert: Warga Tionghoa Komit Cegah Covid-19

Metro- 01-02-2022 13:58
Warga Keturunan Tionghoa Padang sedang sembahyang di Kelenteng Sie Hien Kiong, Senin (31/1) malam. (Foto : Fajril M)
Warga Keturunan Tionghoa Padang sedang sembahyang di Kelenteng Sie Hien Kiong, Senin (31/1) malam. (Foto : Fajril M)

Penulis: Fajril

Padang, Arunala—Perayaan tahun baru Imlek 2022 atau 2573 di Kelenteng Sie Hien Kiong, Kota Padang, pada tahun ini kembali digelar secara sederhana meski diwarnai guyuran hujan.

Lantaran pandemi, perayaan tahun baru China ini digelar dengan protokol kesehatan yang ketat. Pantauan Arunala.com di Kelenteng Sie Hien Kiong, Senin (31/1) malam, warga keturunan Tionghoa sudah mulai mendatangi kelenteng sejak pukul 20.00 WIB.

Ketika memasuki kawasan kelenteng, warga yang hendak beribadah diharuskan memakai masker. Kemudian mencuci tangan di tempat yang telah disediakan dan juga suhu tubuh diukur.

Baca Juga

Perayaan Imlek semakin bewarna dengan kemegahan lampion-lampion yang menghiasi. Warga ramai berdatangan ke tempat itu karena menjadi daya tarik tersendiri bagi warga setempat.

Lokasi yang berada di Jalan Kelenteng itu menjadi penuh sesak oleh warga yang datang ke sana untuk melihat dan berfoto di bawah kelap-kelip lampu lampion.

Meski diwarnai guyuran hujan, tarian naga (liong) pun ikut menyemarakkan perayaan Imlek tahun ini.

"Imlek tahun ini hanya dilaksanakan sembahyang saja bagi etnis Tionghoa. Namun saya tidak menduga terkejut, sembahyang kali ini cukup membeludak yang datang. Padahal malam ini (Senin, red) hanya ritual sembahyang saja," kata Humas Kelenteng Sie Hien Kiong, Indra Lie, kepada Arunala.com .

Indra Lie mengatakan warga yang hendak beribadah harus mengikuti protokol kesehatan.

Ketika memasuki kawasan kelenteng, warga yang hendak beribadah diharuskan memakai masker.

Kemudian mencuci tangan di tempat yang telah disediakan dan juga suhu tubuh diukur.

"Di dalam kelenteng bisa menampung sekitar 50 orang, dan terdapat 8 altar sehingga warga biasa bergantian memanjatkan doa. Puncak sembahyang sendiri dimulai pukul 00.00 WIB dan besok (hari ini, red) dilanjutkan kembali mulai pukul 05.00 WIB," ucap Indra Lie.

Indra Lie menyebutkan tahun baru Imlek tahun ini bermakna Harimau Air.

"Dengan makna Harimau Air itu, mudah-mudahan kitra semakin jauh dari bencana. Seperti ada kejadian gunung meletus, banjir, banjir bandang dan bencana lainnya. Maka dengan tahun baru ini semoga kita dapat dijauhkan dari musibah atau bencana-bencana itu," harap Indra.

Dirinya juga berharap Imlek tahun ini dapat memberi berkah pada warga Kota Padang keturunan Tionghoa.

"Yang jelas, kami tetap berdoa seperti yang kami lakukan tiap pergantian tahun baru Imlek, dan juga beri sesaji agar datang keberkahan bagi kami," imbuhnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat Tionghoa di Padang Albert Hendra Lukman mengajak warga yang merayakan Tahun Baru Imlek 2573 dengan cara sederhana. Hal itu untuk mencegah sebaran Covid-19 di daerah itu.

"Meski perayaan Imlek dilakukan dengan sederhana di masa pandemi Covid-19, tidak mengurangi makna dari momentum tahun baru untuk menjaga tali persaudaraan," sebutnya.

Politisi PDI Perjuangan ini mengatakan saat ini pemerintah dan seluruh masyarakat masih terus berjuang mencegah sebaran virus korona yang dapat muncul kapan saja, dengan melakukan gerakan vaksinasi maupun meningkatkan penerapan protokol kesehatan.

"Mengingat wilayah ini masih belum aman dari sebaran Covid-19," katanya.

Untuk perayaan Imlek tahun ini, sebut Albert, kembali tidak diiringi dengan Festival Cap Go Meh.

"Awalnya masyarakat Tionghoa di Padang berencana akan menggelar Festival Cap Go Meh tahun ini, karena capaian vaksinasi di Padang telah melebihi 80 persen.

Akan tetapi, sekarang muncul kasus varian Omicron, dan telah ada kasus di Indonesia.

"Kami pun berpikir cukup berisiko untuk menggelar Festival Cap Go Meh. Jadi kemungkinan besar Cap Go Meh tidak digelar," katanya.

Albert menyebutkan kegiatan Festival Cap Go Meh dipastikan bisa menimbulkan keramaian.

Dia pun mengakui jika panitia bisa kesulitan untuk menangani kerumunan masyarakat jika Festival Cap Go Meh tetap digelar.

Meski setiap pengunjung nantinya diwajibkan untuk memindai QR Code melalui aplikasi PeduliLindungi.

"Kami putuskan kemungkinan besar Festival Cap Go Meh di tahun ini belum bisa diselenggarakan. Artinya, tahun ini merupakan tahun kedua bagi Tionghoa di Padang tidak menggelar Festival Cap Go Meh. Komitmen tersebut membuktikan bahwa masyarakat Tionghoa di Padang mendukung pemerintah dalam melakukan penanganan Covid-19," sebut Anggota DPRD Sumbar ini.

Komentar