Lewat Kampung Jahit, Bangkit di Masa Pandemi

Metro- 26-12-2022 14:11
Rumah produksi Maharrani dan Hamka Indonesia di simpang Kototingga, Kelurahan Pasaambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat. (Dok: Instagram @maharrani.official)
Rumah produksi Maharrani dan Hamka Indonesia di simpang Kototingga, Kelurahan Pasaambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat. (Dok: Instagram @maharrani.official)

Penulis: Fajril

Takhanya mengedepankan prinsip sustainable business. Brand fesyen lokal asal Kota Padang, Sumatera Barat, Maharrani dan Hamka Indonesia mengupayakan peningkatan perekonomian dan pemberdayaan bagi para penjahit di lingkungan sekitar melalui Kampung Jahit. Seperti apa?

Membangun Kampung Jahit di simpang Kototingga, Kelurahan Pasaambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat ini butuh proses panjang, bukan secara tiba-tiba.

Awalnya, sang inisiator Elsa Maharrani sudah menggeluti usaha jualan online sebagai reseller hijab nasional yang juga dijual secara marketplace pada tahun 2016.

Baca Juga

Kala itu, ia berhasil menjadi agen yang memegang 17 brand ternama. Berkat dukungan suaminya, Fajri Gufran Zainal, Elsa pun menjadi distributor 5-6 brand hijab nasional tersebut.

Lewat usaha mandiri yang dia geluti tersebut mampu meraup keuntungan ratusan juta per bulan. Ternyata dari usaha yang telah dilakoninya itu, tidaklah memuaskan hatinya.

Pasalnya, belum berdampak bagi orang di sekitarnya. Kondisi demikian, membuka pikiran ibu dua anak ini untuk menjadi produsen dengan brand berkualitas sendiri di Kota Padang.

"Apalagi saya berprinsip berwirausaha itu bukan sekadar perkara mencari untung, melainkan juga bagaimana mengangkat perekonomian masyarakat di sekitarnya. Niat itu pun turut didukung suami," kata Elsa Maharrani saat ditemui Arunala.com di Rumah Produksi Maharrani, Kamis (20/9) lalu.

Dengan prinsip itu, Elsa Maharrani memberanikan diri memproduksi pakaian muslim dengan merek sendiri, yakni Maharrani, pada tahun 2018.

Selain memberi keuntungan, ia juga berharap usahanya bisa membuka ladang rezeki bagi orang lain.

"Modal awal dalam membangun usaha ini Rp 3 juta. Saya pun mulai melakukan penjajakan kerja sama dengan penjahit di sekitar rumah. Tawaran saya pun awalnya mendapat penolakan. Namun, akhirnya saya menemukan mitra penjahit sesuai kriteria. Ia seorang perempuan yang pernah bekerja di pabrik garmen di Jakarta dan saat itu sedang menganggur," ungkap alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas ini.

Kemitraan dengan ibu itu lancar. "Ia terus menjahit untuk kami. Melihat itu, tetangganya mau juga bermitra. Akhirnya, mitra kami yang awalnya cuma satu bertambah dua, tiga, lima, sepuluh, hingga sekarang jadi empat puluh orang," sebut Elsa.

Mitra Elsa 80 persen adalah perempuan. Sebagian besar baru belajar menjahit.

"Ada yang awalnya cuma pandai menggoyangkan mesin. Sekarang sudah bisa menjahit baju," ujar Elsa.

Para penjahit mitra-mitra Maharrani ini membentuk konsep setiap penjahit bekerja dari rumah. Apalagi rumah mereka saling berdekatan.

Dengan demikian, penjahit-penjahit mitra Maharrani ini saling menguatkan dan membantu.

"Penjahitnya mayoritas perempuan, karena kita paham sibuknya perempuan di rumah. Jadi bisa menjahit, bisa ngurusi anak dan suami juga. Mereka bisa saling tanya, bantu-membantu, sebab belok dikit saja jahitannya harus dibongkar demi kualitas. Akhirnya terbentuk Kampung Jahit," tutur ibu dua anak ini seraya mengatakan selain ibu-ibu, ada pula penjahit laki-laki yang ambil bagian dalam usaha tersebut.

Elsa menceritakan, proses penjahitan dilakukan oleh mitra di rumah masing-masing. Para mitra menjahit menggunakan mesin jahit mereka sendiri.

Namun, bagi yang tidak punya atau mesinnya perlu diganti, Maharrani meminjamkan atau membantu membelikan mesin yang dibayar mitra secara kredit tanpa bunga.

Sementara itu, kegiatan praproduksi seperti pembuatan dan pemotongan pola serta pascaproduksi dan pengemasan dilakukan di rumah produksi Maharrani.

Kendati begitu, semua mitra harus menjaga standar kualitas nomor satu brand Maharrani, agar selalu dipercaya oleh konsumen.

"Kami memiliki bagian quality control. Tugas mereka, memeriksa setiap hasil jahitan mitra. Apabila ada produk dengan hasil jahitan kurang apik, maka akan dikembalikan dan dibongkar untuk diperbaiki sesuai standar yang dipakemkan," tuturnya.

Maharrani saat ini, sebut Elsa, memproduksi baju gamis, baju basiba, mukena, jilbab, seragam dinas, hingga sarimbit.

Bahkan pada tahun 2021, pihaknya mengeluarkan brand baru bernama Hamka Indonesia.

"Hamka Indonesia ini khusus menyediakan pakaian muslim pria. Di antaranya baju muslim koko, baju basiba dan seragam dinas dengan beragam ukuran," ungkap alumni SMAN 3 Padang ini.

Berbisnis sekaligus Sosial

Jika sekadar berbisnis, sebenarnya bisa saja menggunakan jasa para penjahit di sentra konveksi dari daerah lain, seperti Bandung, Jawa Barat.

Upah penjahit di sana jauh lebih murah dibanding upah penjahit di Padang. Namun tidak bagi Elsa. Dia memilih mengawinkan bisnis dengan pemberdayaan masyarakat.

"Kenapa harus produksi di Padang? (Karena) produk domestik bruto (PDB) Sumbar, termasuk Padang, relatif rendah dibanding daerah lain. Sumbar membeli semuanya dari Jawa. Produksi kain dan penjahitan di Jawa, baru pakaiannya dibawa ke Padang. Kalau semua dioper ke Jawa, uang tidak akan berputar di Padang," tutur Elsa

Di Padang, ia mengeluarkan biaya produksi gamis sekitar Rp45.000 per helai. Untuk masalah upah penjahit di Padang relatif tinggi.

Mereka mematok upah menjahit Rp100.000 - Rp150.000 per helai pakaian. Padahal, Elsa hanya bisa menawarkan upah Rp25.000 per helai. Pertimbangannya, pesanan dari dia akan berkelanjutan.

Selain itu, pekerjaannya lebih sederhana, yaitu menjahit pola kain yang sudah dipotong.

Bahan-bahannya juga disediakan Elsa. Saat ini, dalam sebulan, Elsa mengeluarkan Rp30 juta - Rp50 juta untuk upah 30 mitra penjahit yang sebagian besar adalah tetangga Elsa dan warga di sekitar rumah produksi. Sisanya tersebar di beberapa lokasi di Kota Padang.

Pandemi Covid-19 yang menjadi momok bagi sebagian besar pengusaha justru memberi peluang bagi Elsa dan mitra-mitranya.

Angka penjualan produk Maharanni yang dilakukan secara daring meningkat berkali-kali lipat. Mitra penjahit pun bertambah signifikan demi memenuhi permintaan pasar.

"Dampak pandemi Covid-19 justru positif bagi Maharanni. Peningkatan penjualan mencapai tiga kali lipat dimulai pada Juni-Juli 2020. Sejak saat itu sampai sekarang penjualan terus meningkat. Rezeki ini juga mengalir kepada mitra. Mereka bisa mendapat penghasilan lumayan, yakni Rp 1,5 juta hingga Rp4 juta per bulan," ungkap alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas ini.

Tidak sekadar menjahit dan mendapatkan upah. Setiap sebulan sekali para mitra jahit ini berkumpul di rumah produksi. Mereka melakukan pengajian bulanan sekaligus pemberian beras.

"Bahkan, tahun lalu, kami memberikan reward dua mitra penjahit diikutsertakan kurban pada Hari Raya Idul Adha. Ini sebagai bentuk apresiasi atas usaha dan kerja keras mereka," ucapnya.

Akhir tahun lalu, Elsa berkolaborasi dengan mahasiswa Program Studi Tata Busana Universitas Negeri Padang dalam membuat pola dan memotong pakaian.

"Kolaborasi ini malah turut membantu jalannya bisnis ini. Kami pun terus berupaya mengikuti perkembangan selera, warna dan tren fesyen muslimah. Tanpa meninggalkan identitas Maharrani," tuturnya.

Maharrani kini mampu memproduksi 3.000 helai setiap bulan. Produk yang dijual secara online ini memiliki 60 agen dan ratusan reseller tersebar di dalam maupun luar negeri.

Komentar