Hilangkan Ego Dalam Penanganan Pasien Covid

Metro-181 hit 05-10-2020 21:48
Gubernur Irwan Prayitno rakor virtual dengan Kepala Dinkes kabupaten kota dan pihak rumah sakit soal penangganan pasien Covid kategori berat dan penyakit baawan, di Padang, Senin (5/10). (Dok : istimewa)
Gubernur Irwan Prayitno rakor virtual dengan Kepala Dinkes kabupaten kota dan pihak rumah sakit soal penangganan pasien Covid kategori berat dan penyakit baawan, di Padang, Senin (5/10). (Dok : istimewa)

Penulis: Amazwar Ismail | Editor: MN. Putra

Padang, Arunala -- Penanganan treatment bagi pasien Covid-19 di Sumbar dengan kategori berat dan memiliki komorbid atau penyakit bawaan, jadi perhatian serius Pemprov Sumbar saat ini.

"Penanganan cepat dan baik diyakini akan berimbas pada penekanan angka kematian serta kenaikan jumlah kesembuhan," ungkap Gubernur Sumbar Irwan Prayitno kepada Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) kabupaten kota dan Direktur rumah sakit se-Sumbar pada rapat koordinasi Penanganan Covid-19 yang dilakukan secara virtual, di Padang, Senin (5/10).

Rapat koodinasi hari itu bertujuan menyamakan persepsi, dan langkah dalam penanganan pasien Covid-19, yang dimulai dari tracking, testing, isolasi dan treatment.

Baca Juga

"Saya mengharapkan seluruh stakeholder terkait dapat berkoordinasi dengan baik tanpa saling melempar tanggung jawab. Sebab, seluruh tahapan proses penanganan melibatkan pihak-pihak yang hadir saat ini," sebut Irwan diawal rapat," ujar Irwan.

Lebih lanjut Irwan menyebutkan, saat ini tingkat kematian akibat Covid-19 di Sumbar kurang dari dua persen dan masih dibawah rata-rata nasional. Sementara tingkat kesembuhan mencapai 51 persen, dan diyakini ini akan terus naik persentasenya.

"Saya yakin dengan penanganan serius dari tenaga kesehatan, angka kematian dapat ditekan dan kesembuhan bisa ditingkatkan," tukas Irwan.

Karena itu, dirinya mengharapkan koordinasi terus terjalin baik antara Dinkes dengan pihak rumah sakit.

"Ciptakan koordinasi intens. Seperti dalam menerima pasien. Masing-masing rumah sakit harus mengerti kemampuannya. Rumah sakit daerah hanya menerima pasien ringan sampai sedang. Sementara rumah sakit rujukan Covid-19, menerima pasien sedang hingga berat tanpa komorbid. Sedangkan pasien berat dengan penyakit bawaan sebaiknya dirujuk ke rumah sakit pusat (M Djamil) dan rumah sakit lain yang lengkap alat penunjangnya," jelas Irwan lagi.

Disinilah peran Dinkes sebagai regulator mobilisasi pasien. Dinkes kabupaten kota dapat mengarahkan rumah sakit dalam menentukan rujukan terhadap pasien yang diterima jika dirasa tak mampu untuk menanganinya.

"Jangan ada tolak menolak merawat pasien. Apalagi jika pasiennya sudah gawat. Keterlambatan penanganan dari pihak keluarga hingga rumah sakit, diantara penyebab kematian," terang Irwan.

Melalui aplikasi dan penggunaan IT, Dinkes mampu mengetahui jumlah kapasitas rumah sakit rujukan. Hasil tersebut dikirim ke semua rumah sakit daerah, sehingga keadaan real time ketersedian tempat tidur dapat diketahui.

Begitu juga kebutuhan alat dan tenaga kesehatan. Koordinasi antar sesama rumah sakit juga diperlukan untuk pemenuhannya.

"Jika ada nakesnya yang berlebih atau dirumahkan, coba dikirim ke rumah sakit yang membutuhkan. Termasuk alat, kalau ada ventilator tak terpakai, kirimlah ke M. Jamil. Disana sangat membutuhkan. Untuk administrasi, nanti diatur teknisnya," tambah gubernur.

Terakhir, Irwan mengapresiasi kinerja rumah sakit dan Dinkes selama ini dalam menangani pandemi Covid-19.

"Terima kasih pada semua rumah sakit, baik pemerintah maupun swasta atas kerja kerasnya selama ini. Begitu juga seluruh tenaga kesehatan. Saat ini yang kita perlukan koordinasi maksimal dalam menghadapi pandemi. Mari hilangkan semua ego," kata Irwan Prayitno.

Komentar