.
Untuk itu di RSUP M Djamil, sebut Bestari, sudah dilakukan penambahan tempat tidur di ruangan PICU. Pihaknya menambah 7 tempat tidur, dari sebelumnya 13 menjadi 20 tempat tidur.
"Bahkan kami sudah membentuk tim untuk penanganan kasus ini," ucapnya.
Ditambahkan, Koordinator Emergency Rawat Intensif Anak dr Indra Ihsan SpA (K) MBiomed, pihaknya telah menangani 20 kasus sejak akhir Juli.
Rinciannya, pada akhir Juli terdapat dua kasus. Kemudian 10 kasus di bulan Agustus, 4 kasus di bulan September dan 4 kasus di bulan ini.
"Puncak kasus ini pada bulan Agustus," ungkapnya seraya mengatakan pihaknya masih merawat 4 pasien untuk kasus ini.
Berdasar rentang usia didominasi usia satu hingga lima tahun.
"Sembilan kasus dengan pasien berusia satu hingga lima tahun, empat kasus pada anak usia 5-10 tahun. Enam kasus pada anak di atas 10 tahun serta satu kasus anak di bawah usia satu tahun, " papar Indra Ihsan seraya mengatakan sebaran antara laki-laki dan perempuan hampir sama yakni 60: 40 persen.
Berdasar domisili asalnya, kasus gagal ginjal akut misterius pada anak paling banyak dari Payakumbuh. Dari Kota Payakumbuh tercatat sebanyak lima kasus.
"Kemudian tiga kasus tercatat dari Rumah Sakit Ahmad Mochtar (RSAM) Kota Bukittinggi. Lalu tiga dari Jambi karena RSUP M Djamil Padang menjadi rujukan untuk Sumatera Tengah," ujarnya seraya mengatakan domisili pasien lainnya bervariasi, seperti Pariaman dan Lubuk Basung Kabupaten Agam.
Gejala Klinis Indra Ihsan menjelaskan gejala klinis anak diduga mengalami gagal ginjal akut tersebut ada riwayat demam. Kemudian, sembab atau fungsi ginjal terganggu sehingga tidak keluar urine.
"Kemudian, 50 persen ada gejala diare dan infeksi saluran pernapasan (ISPA), " ungkapnya.
Ia melanjutkan etiologi dari kasus ini masih belum bisa dikonklusikan. Karena dari pemeriksaan yang sudah dilakukan, pihaknya sudah mengirimkan sampel ke Kementerian Kesehatan untuk melakukan penelusuran etiologi. Berupa swab tenggorokan dan swab anal.
"Untuk itu tidak ada konklusi. Penyebabnya berbeda-beda," sebutnya.
Kemudian dari pemeriksaan antibodi anchor, ada sekitar 58 persen positif.
"Artinya, anak-anak ini pernah terpapar infeksi Covid. Tapi karena tidak bergejala namun MIS-C. Ini kita temukan pada jejak antibodi. Padahal anak-anak ini rata-rata belum divaksin," ungkap Indra Ihsan.


Komentar