.
"Kemudian, saya telah memperoleh lima hak kekayaan intelektual (HKI) dalam kurun 5-10 tahun terakhir," ucap Anton Komaini.
Sementara pengabdian masyarakat ini, sebut Anton Komaini, salah satu caranya aktif di organisasi keolahragaan dan kepariwisataan baik provinsi maupun kota.
"Saya sempat aktif sebagai pengurus di 25 organisasi tersebut," tutur ayah dua anak ini.
Dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan UNP ini memang konsern pada motoric learning (ilmu motorik, red). Mengajar untuk beberapa mata kuliah seperti Motoric Learning, Pertumbuhan dan Perkembangan Fisik Motorik, Teknologi Olahraga.
"Selanjutnya, mengampu kuliah Fisioterapi Olahraga, Pariwisata Olahraga, Aquatic Sport, Metodologi Penelitian, dan Olahraga Rekreasi," ungkap alumni S-3 Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini.
Kini Anton Komaini menunggu penetapan jadwal pengukuhan dari Senat UNP.
"Mudah-mudahan bulan depan pengukuhan guru besar. Meski demikian, saya sudah mulai mempersiapkan orasi ilmiah untuk pengukuhan ini," ucap alumni S-1 dan S-2 UNP ini.
Ilmu Motorik
Di sisi lain, Anton Komaini menjelaskan tuntutan saat ini pada pendidikan dasar, anak-anak lebih dituntut pada perkembangan kognitif.
"Orang tua ingin menuntut anak berhasil dari sisi kognitif. Sehingga di usia mereka di bawah tujuh tahun telah dibebani bukan konsep mereka sendiri. Padahal, di usia tersebut masa mereka bermain," ungkapnya.
Dari teori-teori perkembangan anak pun, tutur Anton Komaini, di usia emas tersebut masa bermain.
Ketika bermain itulah, perkembangan bagian tubuh lainnya harus dikembangkan.
"Misalnya, ketika mereka bermain sambil belajar, mereka belajar warna sambil bermain dan belajar angka sambil bermain. Itu kan disepakati secara luas," tutur pria kelahiran 1986 ini.
Tapi kenyataannya, tuntutan orang tua itu anak harus bisa membaca, menulis dan berhitung (calistung). Dan, di sekolah pun hal tersebut terjadi.
"Ketika anak-anak itu sudah bernyanyi dan berdoa di halaman sekolah. Mulai dari masuk sampai selesai, anak dituntut calistung. Bahkan ada beberapa sekolah dasar mewajibkan anak harus bisa calistung," ungkap Anton Komaini.
Ia mengatakan perkembangan mereka ketika bermain itu, maka dia akan mempengaruhi perkembangan sosial emosional (mereka bisa bekerja sama, menghargai orang, bisa disiplin dan kompetisi) dan perkembangan kognitif.
"Ketika dia duduk di dalam kelas, selain bisa menulis angka-angka, tetapi hubungan emosionalnya dengan teman lain tidak terjadi," ucapnyanext


Komentar