.
Melihat kondisi demikian, sebut Anton Komaini, dia pun melakukan penelitian hingga ke Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Dia meneliti kebiasaan orang pedalaman. Dari temuan itu, mereka ternyata kaya akan gerak.
"Semakin kaya gerak, anak itu lebih siap menghadapi tantangan ke depan. Artinya, dari segi fisik mereka lebih cekatan dan siap. Dari sisi sosial emosional, mereka bisa menghargai dan kompetisi bermain dan kognitifnya jalan," tuturnya.
Dari beberapa hasil penelitian dilakukannya, status ekonomi tidak mempengaruhi motorik anak. Yang mempengaruhi adalah budaya dan pola asuh.
"Orang pedalaman ternyata memiliki pola asuh demokratif. Mereka tahu kapan anak itu kembali dan kapan anak itu dibiarkan," ucapnya seraya mengatakan dari beberapa temuan, dia pun menciptakan model permainan beberapa kasuistis.
Ia mengatakan jika ini diterapkan, anak lebih siap menghadapi tantangan.
"Pintar saja tidak cukup. Anak tersebut harus kaya gerak. Pengayaan gerak itu cikal bakal anak siap menghadapi tantangan ke depan. Kalau tidak mempunyai kemampuan motorik, dia akan tersingkir dengan sendirinya," tegasnya seraya mengatakan motoric learning ini harus dimengerti semua orang tua. Oleh karena itu, jangan batasi ruang gerak anak. (***)


Komentar