.
Menurutnya, dengan mengalihkan dan menyibukkan siswa di masjid akan lebih terkontrol. Karena anak-anak lebih aktif di masjid dari siang hingga malam.
"Nanti kita akan ambil absen melalui guru-guru pendamping. Ini akan masuk dalam penilaian ekstra kurikuler. Absen siswa sebanyak tiga kali oleh guru pendamping," terangnya.
Untuk waktu pelaksanaan nanti bisa beragam. Menyesuaikan dengan jadwal SD dan SMP yang dilaksanakan oleh kabupaten kota. Jika SD dan SMP sampai pukul 10.00 WIB, maka SMA, SMK dan SLB diwaktu selanjutnya atau bisa sebaliknya.
Menurut Barlius, Pesantren Ramadan salah satu cara untuk membentuk karakter anak. Karena dengan momentum Pesantren Ramadan ini waktu untuk mempertemukan anak berkolaborasi dalam satu kegiatan.
"Kita sadari selama ini ada anak yang tidak saling kenal dalam satu komplek. Alasannya karena sekolah berbeda, kemudian tidak ada media yang mempertemukan. Makanya sekarang kita buat kolaboratif," pungkasnya.
Pesantren Ramadan Kolaborasi ini didukung oleh Ikatan Dai Indonesia (IKADI), dibantu Asosiasi Guru Pendidik Agama Islam seluruh Indonesia. Ditambah dengan penyuluh agama Kementerian Agama.(drz/adpsb)


Komentar