.
Di samping itu juga untuk kebutuhan benih ikan kerapu sudah ada UPTD Balai Perikanan Budidaya Laut dan Payau DKP Sumbar.
"Kami berharap ke depannya ekspor ikan kerapu dari Sumbar frekuensi dan volumenya lebih meningkat lagi," harapnya.
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sumbar Dr Ir Reti Wafda MTp mengatakan panen ikan kerapu ini sempat tertunda selama dua tahun. Dikarenakan menunggu kedatangan kapal khusus dari Hongkong.
"Untuk ekspor ikan kerapu itu memang membutuhkan transportasi kapal khusus. Dan ini yang menjadi kendala bagi kita dalam mengembangkan ikan kerapu untuk masyarakat," ucapnya.
Artinya meskipun secara kapasitas sudah bisa untuk satu kapal. Namun karena tergantung dengan kedatangan kapal inilah menjadi salah satu kendala.
"Harga kerapu untuk pasar dalam negeri murah. Sementara harga ikan kerapu di luar negeri sesuailah dengan budidaya kerapu," tutur Reti Wafda.
Ke depan, sebut Reti Wafda, Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar akan tetap lanjut dan berupaya melakukan pendampingan. Jangan sampai investasi cukup besar ini mati gara-gara kapal.
"Bagaimana solusi nantinya akan kita didiskusikan dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan seperti apa nanti kerja sama yang kita coba rintis untuk memfasilitasi pengusaha muda ini," tegasnya.
Ia mengatakan pihaknya mendorong tumbuhnya para pengusaha milenial di bidang perikanan. Ini mengingat potensi perairan yg baru termanfaatkan sebagian kecil.
"Seperti investasi dari CV Andalas Samudera. Bapak Adi ini membantu pembudidaya kerapu binaan kita dalam memasarkan hasil budidayanya yang tergabung dalam ekspor kerapu ke Hongkong tersebut," tukas Reti Wafda.(ril)
Halaman 12


Komentar