.
Mereka berasal dari berbagai universitas yang ada di Indonesia dan sekolah-sekolah yang ada di Sumbar.
"Sementara masyarakat umum banyak juga yang datang namun tidak signifkan bagi kalangan pelajar," katanya.
Dia menambahkan, situs seribu menhir make merupakan yang terbesar di nusantara, bahkan itu dunia juga.
Data Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumbar mencatat ada 374 Menhir dan satu dakon di situs yang berada pada ketinggian 350 meter dari permukaan laut ini.
Tinggi menhir beragam, mulai dari seukuran diameter kepala anak-anak hingga sekitar 3 meter. Ada pula satu menhir setinggi 4 meter tapi sudah rebah.
Bentuk Menhir itu bervariasi, antara lain menyerupai mata pedang, hulu pedang/keris, persegi, hingga kepala hewan. Bagian paling atas menhir umumnya membengkok dan mengarah ke satu tujuan ke Gunung Sago yang berada di arah Tenggara.
Sementara itu, Doni salah satu warga Maek mengatakan, sekarang Menhir di Bawah Parit menjadi salah satu destinasi yang dikunjungi di Nagari Maek, mulai dari warga biasa, pelajar dan mahasiswa, hingga peneliti.
"Selama pandemi Covid-19 dulu tingkat kunjungan cukup memprihatinkan, paling banyak sepuluh orang berkunjung dalam sepekan. Sekarang dalam sepekan, biasa puluhan hingga ratusan orang berkunjung," katanya.
Sementara itu Ketua DPRD Sumbar, Supardi mengatakan, untuk sekarang pemerintah provinsi melalui Dinas Kebudayaan Sumbar terus berupaya melakukan kajian yang melibatkan semua unsur untuk agar daerah Nagari Maek bisa menjadi objek desa wisata yang memberikan dampak ekonomi terhadap masyarakat.
"Saya menginginkan jika ini benar-benar terwujud, masyarakat maek tidak menjadi penonton di daerah sendiri seperti di objek-objek wisata internasional lainnya," pungkas Supardi. (cpt/*)
Halaman 12


Komentar