Pelaku Usaha Otomotif di Padang Khawatir PPnBM jadi 25 Persen

Metro- 27-08-2021 12:09
Showroom Honda Gajah Khatib Sulaiman Padang. (Dok : Istimewa)
Showroom Honda Gajah Khatib Sulaiman Padang. (Dok : Istimewa)

Penulis: Arzil

Padang, Arunala - Sejak pemberlakuan program relaksasi menyangkut regulasi keringanan Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM) 100 persen oleh pemerintah, menjadi angin segar bagi pelaku usaha otomotif di negara ini, tidak terkecuali di Kota Padang.

Pasalnya, dengan adanya regulasi insentif bebas PPnBm 100 persen yang diberlakukan pada 1 Maret hingga 31 Mei 2021 itu mampu menaikkan tingkat penjualan unit otomotif yang mereka pasarkan berjalan bagus.

"Sejak penerapan PPnBM itu berlaku, menjadikan tingkat penjualan kami cukup bagus, dan membuat demand jauh meningkat, tapi sayangnya tidak diimbangi dengan supply," ungkap Direktu Honda Gajah Padang, Albert Gani ketika dihubungi Arunala.com , Jumat siang (27/8).

Baca Juga

Karena kurang part shorage itu, sebut Beto yang akrab dipanggil, menjadikan banyak kendaraan yang dipesan pihaknya belum bisa di-supply ke customer.

Beto melanjutkan, sejak ada regulasi PPnBM, permintaan sudah mirip dengan kondisi 2019 lalu, tepatnya sebelum pandemi, namun dirinya enggan menyebutkan berapa angka tingkat penjualan pihaknya pada 2019 itu.

Namun dari penjelasan Beto selanjutnya, ada sedikit rasa pesimistis penjualan saat memasuki September 2021 ini.

"Pasalnya, kebijakan penerapan regulasi PPnBM 100 persen bakal berakhir Agustus ini. Masuk September hingga akhir tahun ini kebijakan PPnBM 100 persen itu tidak lagi diperpanjang. Meski masih ada keringanan, tapi penerapan PPnBM menjadi 25 persen," kata Beto lagi.

Selain itu, dirinya juga mendapat kabar pada Oktober nanti juga akan berlaku nilai PPnBM ditentukan dari emisi gas buang.

"Ini bisa membuat harga mobil semakin naik, dan tidak sejalan dengan peningkatan ekonomi yang mana kita masih belum keluar dari situasi pandemi," tukas Beto.

Dirinya mengakui, adanya kebijakan mengenai PPnBM ini membuat permintaan meningkat. Dan dia berharap semoga pemerintah memperpanjang PPnBM 100 persen itu, sehingga produksi pabrik pun dapat stabil dan penjualan unit meningkat.

"Karena jika terjadi penurunan insentif PPnBM itu, hampir bisa dipastikan kembali ber-impact tingkat penjualan dan juga terhadap kebutuhan tenaga kerja di pabrik," kata Beto.

Komentar