Surabaya, Arunala.com - Sejumlah wartawan tergabung dalam Jaringan Pemred Sumbar (JPS) studi tiru ke Dinas Kominfo Provinsi Jawa Timur (Jatim), Rabu (29/5/2024).
Selain wartawan, turut mendampingi Kabiro Adpim Setprov Sumbar, Mursalim, Anggota DPRD Sumbar Desrio dan Komisioner KPU Sumbar, Jons Manedi bersama Kabag Teknis Sutrisno.
Tujuan studi tiru ke Diskominfo Jatim untuk mencari formula yang baik bagi KPU, DPRD dan Pemprov Sumbar termasuk para jurnalis dalam menangkal hoaks.
Kepala Bidang (Kabid) IKP Diskominfo Jatim, Putut Darmawan memaparkan, dalam dunia digitalisasi berbagai informasi cepat berkembang, dan pada 2024 penggunaan jasa internet yang hampir 60 persen penduduk Indonesia.
Dari jumlah 60 persen itu, terangnya, sebanyak 80 persen diperkirakan sudah melek internet, baik itu media sosial (medsos) seperti WhatsApp, Tiktok, Twitter, Instagram, Facebook dan website.
Dia mengakui, bila banyak masyarakat mendapatkan berbagai informasi tapi mereka tidak mendapatkan pembelajaran literasi informasi yang baik.
"Dari data yang dimiliki pihak Diskominfo Jatim, ada sekitar 23 persen masyarakat pengguna medsos tidak yakin dan tidak tahu bila informasi yang mereka terima itu apakah hoax atau tidak," terang Putut.
Selanjutnya, sekitar 45 persen pengguna medsos itu ragu-ragu, apakah informasi yang mereka terima itu hoaks atau tidak dan biar cepat hits informasi yang diterimanya langsung dikirim ke berbagai platform medsos, seperti WA grup, Facebook, Tiktok dan lainnya.
"Dalam hitungan detik, informasi ini langsung menyebar luas," kata Putut.
Cuma, sembung dia, sekitar 30 persen pengguna medsos merasa yakin kalau informasi yang mereka terima melalui medsos adalah berita tidak benar atau salah.
"Kenapa data ini kami ungkap, karena banyak dari masyarakat yang tidak miliki literasi informasi, sehingga menjadikan berita hoaks lebih berkembang dari pada upaya mengklarifikasinya," tukas Putut.
Menyikapi kondisi medsos yang demikian, Putut menyebutkan Pemprov Jatim melalui Diskominfo ciptakan banyak relawan untuk melawan pemberitaan hoaks di medsos
"Dalam menciptakan para relawan-relawan melawan hoaks itu, kami rekrut melalui klinik hoax," pungkas Putut. (*)


Komentar