Padang, Arunala.com--Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR mendorong pengembangan INA-Quantiferon TB agar dapat menjadi produk nasional dalam mendukung deteksi tuberkulosis (TB) laten di Indonesia. Inovasi yang dikembangkan melalui kolaborasi RSUP Dr. M. Djamil dengan Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi (PDRPI) Fakultas Kedokteran Universitas Andalas itu merupakan langkah strategis dalam memperkuat kemandirian teknologi diagnostik kesehatan nasional.
Dorongan tersebut disampaikan saat kunjungan kerja ke PDRPI Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, sekaligus memberikan kuliah umum bertajuk Strategi Nasional Percepatan Eliminasi Tuberkulosis di Aula Student Center Prof. dr. M. Syaaf, Padang, Selasa (12/5/2026).
"Produk ini tentunya diarahkan untuk menghadirkan metode pemeriksaan Interferon Gamma Releasing Assay (IGRA) yang lebih akurat, terjangkau, serta dapat dikembangkan di dalam negeri, khususnya untuk mendeteksi TB laten yang kerap tidak bergejala," kata Wamenkes.
Menurutnya, penguatan riset berbasis kolaborasi antara rumah sakit pendidikan dan institusi akademik menjadi fondasi penting dalam mempercepat eliminasi TB di Indonesia. INA-Quantiferon TB dinilai bukan hanya sebagai inovasi riset, tetapi juga bagian dari upaya besar menuju kedaulatan kesehatan nasional. "Yang kami lihat hari ini bukan sekadar sebuah riset, tetapi fondasi penting bagi kedaulatan kesehatan Indonesia," ujar Benjamin.
Benjamin menjelaskan pengembangan INA-Quantiferon TB juga telah memperoleh dukungan pendanaan dari Kementerian Kesehatan RI. Ke depan, riset ini diarahkan menuju proses hilirisasi bersama Bio Farma agar dapat diproduksi secara nasional dan dimanfaatkan lebih luas oleh masyarakat. "Oleh karena itu, pentingnya inovasi yang tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar dapat diimplementasikan dalam sistem layanan kesehatan," tegasnya.
Selain INA-Quantiferon TB, Benjamin juga mengapresiasi berbagai produk riset lain hasil kolaborasi RSUP Dr. M. Djamil dan PDRPI Universitas Andalas, di antaranya MRSA Assay, Pneumoplex 4.0, HIV Detect Real Time Kit, dan HBV Detect Real Time Kit. "Inovasi tersebut diharapkan dapat terus berkembang dan memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan teknologi kesehatan," harapnyanext


Komentar