.
Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua menyampaikan pengembangan INA-Quantiferon TB merupakan bagian dari komitmen rumah sakit dalam mendukung transformasi kesehatan nasional melalui penguatan riset berbasis kolaborasi. "Inovasi ini diharapkan mampu memperkuat program eliminasi TB yang menjadi prioritas pemerintah," harapnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Andalas Efa Yonnedi, Ph.D menegaskan kolaborasi lintas institusi menjadi kunci dalam menghadirkan riset yang berdampak nyata bagi masyarakat. "Perguruan tinggi harus mampu memastikan inovasi tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan bangsa," ucap Efa.
Ketua PDRPI Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Si menjelaskan INA-Quantiferon TB dikembangkan untuk meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas pemeriksaan TB laten, yang selama ini sulit terdeteksi karena pasien belum menunjukkan gejala. "Riset ini juga menjadi bagian dari upaya kemandirian teknologi kesehatan berbasis riset dalam negeri serta bukti bahwa kolaborasi antara akademisi, klinisi, dan pemerintah mampu menghasilkan inovasi yang aplikatif bagi sistem kesehatan nasional," tukasnya. (*)


Komentar