Ranah Minang dalam Torehan Sejarah, Banyak Lahirkan Pemimpin Bangsa

Metro- 20-06-2024 01:00
Ketua DPRD Sumbar, Supardi bersama Gubernur Mahyedi saat peluncuran buku  biografi Maspar Rasyid, di Bukittinggi, Sabtu (2/6/2024). (dok : istimewa)
Ketua DPRD Sumbar, Supardi bersama Gubernur Mahyedi saat peluncuran buku biografi Maspar Rasyid, di Bukittinggi, Sabtu (2/6/2024). (dok : istimewa)

Bukittinggi, Arunala.com - Momen peringatan Hari Bangkit Pelajar Islam Indonesia (PII) yang digelar Pemprov Sumbar di Kota Bukittinggi, Minggu (2/6/2024), diisi dengan peluncuran buku biografi Maspar Rasyid.

Ada pesan mendalam disampaikan Ketua DPRD Sumbar, Supardi pada peringatan hari bangkit PII ini.

"Sejak masa perjuangan kemerdekaan Indonesia dulu, ranah Minang tercatat dalam sejarah negara ini, karena banyak melahirkan tokoh dan pemimpin bangsa yang berjiwa negarawan," kata Supardi.

Para tokoh itu, terang Supardi, tampil dengan kepemimpinan yang tidak mendahulukan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.

"Sebagai tokoh bangsa, mereka berjuang untuk kepentingan rakyat," tegas Supardi lagi.

Bahkan hingga sekarang, lanjutnya, Sumbar (ranah Minang, red) tetap melahirkan pemimpin yang berjiwa negarawan, salah satunya Masfar Rasyid.

"Dalam pengamatan saya, walau pun beliau ini (Masfar Rasyid, red) tidak pernah menjabat sebagai kepala daerah, atau jabatan lainnya, tapi pergerakan dalam kebangkitan Pelajar Islam Indonesia telah memberikan pemikiran-pemikiran yang patut jadi panutan semua orang,” ujar Supardi.

Supardi juga menyampaikan, dalam beberapa dekade terakhir terjadi kemunduran keberadaan lahirnya tokoh-tokoh pemimpin yang berjiwa negarawan di Sumbar.

“Hal ini dapat kita cermati ketika dampak peristiwa PRRI dimana banyak masyarakat menganti nama anak dengan nama-nama dari Jawa karena rasa malu dan takut perkembangan anak tidak dapat kerja nantinya. Termasuk nama saya Supardi yang dianggap sebagian masyarakat saya orang Jawa," ungkapnya.

Kata Supardi, timbangan kekuasaan orde lama dan orde baru serta reformasi hari ini amat berpengaruh akan tumbuhnya tokoh-tokoh pemimpin yang berjiwa negarawan dari Sumbar.

“Ketika saya masih aktivis organisasi buruh pimpinan Muchtar Pakpahan, pendiri serikat buruh independen pertama di Indonesia, melakukan demo, dan saya ikut terpanggil demo hingga puncaknya di Medan. Suasana saat itu, organisasi Buruh masuk daftar organisasi yang tidak diakui pemerintah pusat. Kami dicari dan dikejar aparat dalam perjuangan itu,” kenangnyanext

Komentar