Elektrifikasi Crane Ubah Wajah Pelabuhan Teluk Bayur

Ekonomi- 21-05-2026 08:49
Petugas melakukan penataan kabel elektrifikasi Gantry Jib Crane di dermaga multipurpose Pelabuhan Teluk Bayur, Padang. Transformasi dari sistem diesel ke listrik ini menjadi langkah strategis menuju pelabuhan ramah lingkungan, sekaligus meningkatkan efisiensi bongkar muat hingga memangkas waktu pelayanan kapal secara signifikan. IST
Petugas melakukan penataan kabel elektrifikasi Gantry Jib Crane di dermaga multipurpose Pelabuhan Teluk Bayur, Padang. Transformasi dari sistem diesel ke listrik ini menjadi langkah strategis menuju pelabuhan ramah lingkungan, sekaligus meningkatkan efisiensi bongkar muat hingga memangkas waktu pelayanan kapal secara signifikan. IST

Padang, Arunala.com--Antrean kapal di Pelabuhan Teluk Bayur kini tak lagi mengular panjang. Berkat operasional penuh tiga unit Gantry Jib Crane sepanjang tahun 2025, durasi bongkar muat di dermaga multipurpose ini sukses dipangkas hingga 30 persen. Pengoperasian crane tersebut mendongkrak produktivitas pelabuhan ke angka 150 hingga 200 ton per jam dalam 1 gang kerja untuk pelayanan komoditi curah kering.

Efek kebijakan dekarbonisasi ini pun di luar dugaan. Sebelum beralih ke sistem kelistrikan, manajemen harus menghabiskan anggaran hingga Rp170 juta per bulan hanya untuk membeli bahan bakar crane. Kini, setelah sistem kelistrikan sepenuhnya beroperasi, tagihan operasional bulanan merosot tajam menjadi Rp60 juta, sebuah penghematan anggaran yang menyentuh angka 35 persen.

"Kecepatan bongkar muat itu sejatinya ditentukan oleh siklus kerja (hook cycle) alat, bukan sumber energinya. Jadi, meski sekarang digerakkan oleh listrik, produktivitasnya tetap menjaga ritme performa di dermaga," jelas Branch Manager PTP Nonpetikemas Cabang Teluk Bayur, Fauzi, kepada Arunala.com di ruang kerjanya, Senin (18/5/2026).

Fauzi menambahkan, derek dermaga ini mampu bekerja dua hingga tiga kali lebih cepat ketimbang derek bawaan kapal (ship's gear). Jika berkaca pada sejarah pelabuhan sebelum modernisasi, waktu tambat kapal (port stay) yang dulunya memakan waktu empat sampai lima hari, kini bisa diselesaikan dalam tempo dua hingga tiga hari saja.

Selain hemat energi, keunggulan terbesar dari konversi ini terletak pada minimnya gangguan teknis (breakdown). Mesin diesel konvensional umumnya menuntut jeda perawatan rutin yang ketat secara periodik berdasarkan running hour. "Dengan elektrifikasi, pola perawatan menjadi jauh lebih sederhana sehingga kesiapan alat di lapangan selalu berada di posisi optimal," ungkapnya.

Dari sisi sumber daya manusia, modernisasi teknologi ini digerakkan sepenuhnya oleh talenta lokal. Sembilan operator setempat telah mengantongi Surat Izin Operator (SIO) resmi dari Kementerian Ketenagakerjaan. Guna menjaga aspek keselamatan kerja, mereka diwajibkan mengikuti refreshment training berkala serta pemeriksaan kesehatan rutin setiap tahunnext

Komentar