.
Dari sisi lingkungan, transisi dari mesin diesel ke listrik terbukti ampuh memangkas emisi karbon, polusi udara, dan kebisingan di area pelabuhan. "Hilangnya asap dan getaran mesin diesel menciptakan lingkungan kerja yang jauh lebih sehat bagi operator, teknisi, tenaga bongkar muat, hingga masyarakat sekitar," urai Elfira.
Secara ekonomi, operasional crane listrik membebaskan manajemen dari ketergantungan BBM, menyederhanakan biaya perawatan, dan mengamankan pelabuhan dari volatilitas harga bahan bakar dunia. Apalagi, Teluk Bayur merupakan pintu gerbang utama ekspor-impor Sumatera Barat dengan nilai perdagangan mencapai US$2,177 miliar berdasar data BPS.
"Secara akademis, peningkatan efisiensi pelabuhan mampu menurunkan biaya pengiriman laut hingga 12 persen karena berhasil memangkas waktu tunggu kapal (dwelling time). Efisiensi ini memastikan komoditas unggulan daerah seperti semen dari Semen Padang, minyak sawit (CPO) dan turunannya, produk pertanian, dan perikanan dapat didistribusikan dengan jadwal yang lebih akurat dan biaya logistik yang terkontrol," paparnya.
Sementara dari sisi tata kelola (governance), penggunaan crane listrik mendorong manajemen untuk menerapkan metrik kinerja yang transparan dan terukur. Mulai dari hitungan konsumsi energi per ton barang hingga standar keselamatan kerja yang lebih tinggi.
Meski demikian, Elfira mengingatkan modernisasi fisik ini harus diimbangi dengan digitalisasi layanan, kepastian dokumen, serta konektivitas yang kuat dengan kawasan produksi (hinterland). "Pada akhirnya, pelabuhan yang efisien akan menjadi pengungkit ekonomi Sumatra Barat yang mampu menghidupkan aktivitas industri, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan daya saing daerah secara global," pungkasnya. (*)


Komentar