Elektrifikasi Crane Ubah Wajah Pelabuhan Teluk Bayur

Ekonomi- 21-05-2026 08:49
Petugas melakukan penataan kabel elektrifikasi Gantry Jib Crane di dermaga multipurpose Pelabuhan Teluk Bayur, Padang. Transformasi dari sistem diesel ke listrik ini menjadi langkah strategis menuju pelabuhan ramah lingkungan, sekaligus meningkatkan efisiensi bongkar muat hingga memangkas waktu pelayanan kapal secara signifikan. IST
Petugas melakukan penataan kabel elektrifikasi Gantry Jib Crane di dermaga multipurpose Pelabuhan Teluk Bayur, Padang. Transformasi dari sistem diesel ke listrik ini menjadi langkah strategis menuju pelabuhan ramah lingkungan, sekaligus meningkatkan efisiensi bongkar muat hingga memangkas waktu pelayanan kapal secara signifikan. IST

.

"Langkah adaptif ini berjalan beriringan dengan penerapan standar ISO 14001 dan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance), menjadikan Teluk Bayur sebagai pelopor pelabuhan ramah lingkungan yang tidak gagap teknologi," tuturnya.

Keandalan sistem baru ini langsung tecermin dari rapor performa bisnis yang terus meroket. Sepanjang tahun 2025, realisasi arus barang (throughput) di Teluk Bayur berhasil menyentuh angka 5,79 juta ton. Sinyal positif itu terus menggelinding hingga memasuki tahun 2026. Data pada Triwulan I 2026 menunjukkan throughput pelabuhan sudah mengantongi 1,51 juta ton, atau setara 118,69 persen dari target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).

Sekretaris Perusahaan PTP Nonpetikemas, Fiona Sari Utami, mengatakan transformasi operasional yang dilakukan perusahaan tidak hanya berorientasi pada efisiensi, tetapi juga penguatan daya saing pelabuhan dalam jangka panjang. "Kami terus mendorong peningkatan pelayanan melalui penguatan infrastruktur, teknologi, dan SDM yang berkelanjutan," katanya.

Akselerasi performa ini mendapat acungan jempol dari para pelaku industri logistik nasional. Ketua Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Sumatra Barat, M. Tauhid, menilai langkah berani Teluk Bayur merupakan jawaban konkret atas persoalan klasik dunia pelayaran, yakni kepastian jadwal sandar. "Percepatan pelayanan di dermaga memiliki efek domino yang sangat besar bagi dunia usaha. Jadwal distribusi komoditas menjadi lebih pasti dan biaya logistik tinggi yang selama ini dikeluhkan bisa ditekan," urai Tauhid saat dihubungi terpisah.

Bagi APBMI, transformasi di Teluk Bayur membuktikan bahwa daya saing pelabuhan modern saat ini tak lagi sekadar berbicara tentang volume barang. "Pelabuhan yang mampu menghadirkan layanan cepat, efisien, dan ramah lingkungan otomatis akan menjadi pilihan utama industri pelayaran global, sekaligus menjadi investasi jangka panjang yang krusial untuk pertumbuhan ekonomi Sumatra Barat," tutur M. Tauhid.

Langkah transformatif ini juga mendapat apresiasi dari pengamat transportasi laut, Elfira Wirza, M.Sc. Dosen Politeknik Pelayaran Sumatra Barat ini menilai penerapan elektrifikasi crane menjadi pilar strategis dalam mendukung prinsip ESG di sektor maritim, sekaligus cetak biru menuju era green port di Indonesianext

Komentar