.
Berdasarkan hasil pelaksanaan skrining selama satu tahun, dari 191.545 bayi 0-29 hari yang terdaftar dalam Program CKG, sebanyak 152.255 bayi telah menjalani pemeriksaan menggunakan oksimetri. Dari jumlah tersebut, sebanyak 7.684 bayi terindikasi mengalami kelainan jantung bawaan kritis dan memerlukan pemeriksaan serta penanganan lebih lanjut.
"Sekarang di puskesmas telah disediakan alat oksimetri untuk membantu memantau tingkat saturasi oksigen dan denyut nadi. Dengan begitu, tenaga kesehatan dapat lebih cepat mengenali bayi yang berisiko mengalami kelainan jantung bawaan. Bayi tersebut kemudian bisa dirujuk ke rumah sakit untuk menjalani ekokardiografi sehingga kita dapat mengetahui bayi mana yang memerlukan operasi segera dan jenis kelainan jantung bawaan yang dialaminya, termasuk apakah termasuk kelainan jantung sianotik," jelasnya.
Ia menambahkan, deteksi dini merupakan kunci utama dalam menyelamatkan lebih banyak bayi yang lahir dengan kelainan jantung bawaan. Semakin cepat kasus ditemukan, semakin cepat pula bayi dapat dirujuk ke rumah sakit yang memiliki layanan jantung anak untuk mendapatkan pemeriksaan lanjutan dan tindakan operasi bila diperlukan.
"Deteksi dini memungkinkan penanganan lebih cepat sehingga peluang menyelamatkan nyawa bayi semakin besar. Selama ini kasus seperti ini umumnya terlambat terdeteksi. Saya minta begitu data ini diperoleh, kita harus segera bergerak karena pasti semakin banyak bayi yang teridentifikasi mengalami kondisi ini," ujarnya.
Oleh karena itu, Budi berharap penguatan Program CKG diikuti dengan peningkatan kapasitas layanan rujukan di seluruh Indonesia. "Kita butuh banyak rumah sakit yang bisa melakukan pediatric cardiac surgery (bedah jantung anak). Dengan begitu, bayi yang terdeteksi melalui Cek Kesehatan Gratis dapat segera memperoleh penanganan yang tepat dan peluang hidupnya menjadi jauh lebih baik," tutur alumni Institut Teknologi Bandung ini.
Sumbar Pacu Target Skrining 48 Persen
Menanggapi penguatan program preventif ini, Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Barat, dr. Aklima, MPH, menyampaikan pelaksanaan CKG di Sumbar menunjukkan tren positif. Realisasi CKG Sumbar pada 2025 mencapai 38 persen, melampaui target awal sebesar 36 persen.
"Tahun ini target Cek Kesehatan Gratis di Sumatera Barat kita tingkatkan menjadi 48 persen. Fokus kami memacu cakupan pada kelompok bayi, anak-anak, dan lansia yang sejauh ini masih perlu didorong," ujar Aklima.
Aklima menekankan filosofi utama CKG adalah membangun kesadaran masyarakat bahwa pencegahan dan penanganan dini jauh lebih efektif ketimbang mengobati penyakit yang sudah parah. "Prinsipnya deteksi dini agar masyarakat tetap sehat. Ketika ditemukan kondisi pra-penyakit, intervensi medis langsung dilakukan sehingga bisa mencegah komplikasi sekaligus menekan pembiayaan kesehatan jangka panjang," pungkasnya. (*)


Komentar