Pasien dan Keluarga Harus Jadi Mitra dalam Menjaga Keselamatan RS

Kesehatan- 15-10-2026 20:03
Dirut RS M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua bersama narasumber dalam Seminar World Patient Safety 2026 di Audtorium Lantai 4 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Kamis (15/10/2026). HUMAS RS M. DJAMIL
Dirut RS M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua bersama narasumber dalam Seminar World Patient Safety 2026 di Audtorium Lantai 4 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Kamis (15/10/2026). HUMAS RS M. DJAMIL

Padang, Arunala.com--Keselamatan pasien tidak cukup hanya mengandalkan ketelitian tenaga kesehatan dan kepatuhan terhadap prosedur rumah sakit. Pasien dan keluarga juga perlu dilibatkan secara aktif sebagai mitra dalam mengenali risiko, mencegah kesalahan, dan memastikan pelayanan berlangsung aman.

Pentingnya pergeseran paradigma dari patient-centered care menuju patient partnership ditegaskan Direktur Utama Lembaga Akreditasi Mutu dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit (LAM-KPRS), dr. Andi Wahyuningsih Attas, Sp.An.T.I, Subsp.T.I.(K), MARS, dalam Seminar World Patient Safety di Auditorium Lantai 4 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan RS M. Djamil, Kamis (15/10/2026).

Dalam pemaparannya, dr. Andi Wahyuningsih Attas menekankan pendekatan pelayanan kesehatan tidak cukup hanya menempatkan pasien sebagai pusat perhatian. Pasien dan keluarga juga perlu dilibatkan secara aktif sebagai mitra dalam menjaga keselamatan selama proses perawatan.

"Pasien dan keluarga bukan sekadar penerima layanan yang menunggu tindakan tenaga kesehatan. Mereka memiliki pengalaman langsung terhadap kondisi kesehatan dan perjalanan pelayanan yang dijalani, sehingga dapat memberikan informasi penting yang membantu tenaga kesehatan mengenali potensi masalah sejak dini," ujarnya.

Keterlibatan pasien dan keluarga dapat membantu mengidentifikasi berbagai potensi masalah, mulai dari perubahan kondisi pasien, ketidaksesuaian obat, informasi yang terlewat, hingga kendala komunikasi dan kegagalan dalam transisi pelayanan. Pengalaman pasien juga dapat mengungkap persoalan yang tidak selalu teridentifikasi dari sudut pandang organisasi, tetapi berpotensi memengaruhi mutu dan keselamatan pelayanan.

Menurut dr. Andi, pergeseran menuju patient partnership membutuhkan hubungan yang lebih terbuka antara pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan. Pasien harus merasa nyaman untuk bertanya, menyampaikan kekhawatiran, mengonfirmasi informasi pengobatan, serta melaporkan hal-hal yang dirasakan tidak sesuai selama menjalani perawatannext

Komentar