.
Sebaliknya, tenaga kesehatan dan rumah sakit perlu memberikan ruang bagi pasien dan keluarga untuk berpartisipasi, menghargai setiap masukan, serta menindaklanjuti informasi yang berpotensi memengaruhi keselamatan. Dengan demikian, keselamatan pasien tidak hanya bergantung pada kepatuhan terhadap prosedur, tetapi juga pada kualitas komunikasi dan kolaborasi seluruh pihak.
"Komunikasi yang efektif menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun kemitraan tersebut. Informasi tentang diagnosis, rencana pengobatan, penggunaan obat, tindakan medis, hingga tindak lanjut setelah pasien pulang harus disampaikan secara jelas dan dipastikan dapat dipahami pasien maupun keluarga," jelasnya.
Melalui komunikasi yang baik, pasien tidak hanya mengetahui tindakan yang diberikan, tetapi juga memahami tujuan, manfaat, risiko, serta hal-hal yang perlu diperhatikan selama menjalani perawatan. Keluarga pun dapat membantu memastikan informasi penting tersampaikan secara utuh, terutama bagi pasien yang membutuhkan pendampingan.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Layanan LAM-KPRS, Dr. dr. Andry, MM, MHKes, membahas aspek risiko dan keselamatan pasien melalui pemahaman tentang risk, hazard, harm, dan contributing factor. Keempat konsep tersebut penting untuk mengenali potensi bahaya, memahami dampak yang dapat ditimbulkan, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya insiden keselamatan pasien.
Risk atau risiko berkaitan dengan kemungkinan terjadinya suatu peristiwa yang dapat berdampak pada keselamatan pasien. Hazard merupakan sumber atau kondisi yang berpotensi menimbulkan bahaya, sedangkan harm merujuk pada dampak merugikan yang dialami pasien. Sementara itu, contributing factor merupakan faktor yang turut berperan dalam terjadinya suatu insiden.
Dr. Andry menekankan pentingnya pemahaman terhadap konsep tersebut sebagai landasan bagi fasilitas pelayanan kesehatan untuk memperkuat upaya pencegahan insiden. Identifikasi risiko, pengenalan sumber bahaya, analisis faktor penyebab, dan evaluasi proses pelayanan perlu dilakukan secara berkesinambungan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kejadian yang merugikan pasien.
Dalam penerapannya, informasi yang disampaikan pasien dan keluarga juga menjadi bagian penting dalam proses identifikasi risiko. Keluhan mengenai perubahan kondisi, pertanyaan tentang obat yang diberikan, maupun pengalaman pelayanan yang dirasakan tidak sesuai perlu dipandang sebagai masukan berharga untuk memperbaiki sistem pelayanannext


Komentar