Mendikbudristek: Praktisi Mengajar, Ruang Belajar Lebih Kolaboratif

Edukasi- 03-06-2022 20:43
Mendikbudristek RI Nadiem Makarim saat peluncuran Merdeka Belajar Episode Kedua Puluh: Praktisi Mengajar di kanal Youtube Kemendikbud RI, Jumat (3/6). (Dok : Istimewa)
Mendikbudristek RI Nadiem Makarim saat peluncuran Merdeka Belajar Episode Kedua Puluh: Praktisi Mengajar di kanal Youtube Kemendikbud RI, Jumat (3/6). (Dok : Istimewa)

Penulis: Fajril

Padang, Arunala - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim menyerukan perguruan tinggi Indonesia harus bertransformasi, harus bergerak lebih cepat agar bisa melompat ke masa depan.

"Sekarang sudah bukan lagi waktunya mengejar ketertinggalan, tetapi Indonesia harus berada di garis depan dan memimpin kemajuan dunia," kata Nadiem Makarim pada peluncuran Merdeka Belajar Episode Kedua Puluh: Praktisi Mengajar dalam siaran pers yang diterima Arunala.com , Jumat (3/6).

Nadiem menyatakan, masih ada tantangan yang cukup besar dalam sistem pendidikan tinggi kita, khususnya berkaitan dengan tingkat kesiapan lulusan perguruan tinggi untuk terjun di dunia kerja.

Baca Juga

"Ini sebenarnya permasalahan yang sudah cukup lama terjadi. Sekarang kami benar-benar mengambil langkah nyata untuk mengatasinya," sebut dia.

Mendikbudristek ini menjelaskan secara sederhana bahwa jika pada program Kampus Merdeka, mahasiswa yang dikirim ke luar kampus untuk memperoleh pengalaman kerja, maka pada program Praktisi Mengajar, para ahli di dunia industri yang justru datang ke dalam kampus untuk membagikan pengalaman praktisnya.

"Kita ingin para praktisi yang hebat-hebat di dunia industri mau datang ke kampus dan membagikan pengetahuannya pada para mahasiswa dan dosen. Melalui kolaborasi antara praktisi dan dosen, kita juga ingin menghadirkan ruang pembelajaran yang lebih kolaboratif dan partisipatif," ujar dia lagi.

Kehadiran program Paktisi Mengajar, sebut Nadiem, akan membawa pembaharuan pada sistem pembelajaran di kelas, sehingga mahasiswa bisa belajar dengan metode studi kasus masalah terkini.

Kemudian, ilmu dan teori yang diperoleh mahasiswa bisa diterapkan pada model pemecahan masalah, dan mahasiswa juga bisa mengembangkan soft skills-nya dengan bekerja berkelompok.

"Saya mengajak semua perguruan tinggi dan seluruh praktisi yang kompeten di berbagai bidang industri untuk terlibat dalam program Praktisi Mengajar," ajak Mendikbudristek.

Nadiem menuturkan, praktisi ahli dengan syarat dan kriteria tertentu yakni di antaranya memiliki 3 tahun pengalaman bekerja, masih bekerja dan tidak teregistrasi sebagai dosen.

Para praktisi akan diterjunkan mengajar lewat dua paket kolaborasi, yakni paket kolaborasi pendek dan kolaborasi intensif.

Selain itu honor praktisi akan didanai oleh Kemendikbud dengan anggaran di batch pertama sebesar Rp 140 miliar untuk lebih dari 2.500 mata kuliah yang berada di bawah naungan Kemendikbud.

"Paket kolaborasi pendek mengajar 4 sampai 10 jam per semester dan terlibat dalam pengajaran sementara intensif mengajar 15 sampai 41 jam per semester dan wajib terlibat perencanaan dan evaluasi," tutur Nadiem.

"Honor Rp 900 ribu sampai Rp 1,4 juta per jam berdasarkan pengalaman kerja dan sesuai standar biaya umum yang berlaku," lanjut Nadiem.

Sejauh ini sudah ada 20 episode Merdeka Belajar yang terobosannya telah menyentuh semua jenjang pendidikan. Mulai PAUD sampai perguruan tinggi, dan juga kebudayaan dan bahasa.

Tujuh di antaranya menyasar transformasi pada jenjang pendidikan tinggi.

"Dengan kolaborasi nyata antara perguruan tinggi dan dunia industri, saya yakin kita bisa memimpin pemulihan dunia dan bergerak serentak mewujudkan Merdeka Belajar," ucap Nadiem.

Komentar