Ketua DPRD Sumbar Beri Penguatan Nilai-nilai Kepahlawanan

Metro- 04-07-2022 22:55
Ketua DPRD Sumbar, Supardi bersama peserta sosialisasi penguatan nilai-nilai kepahlawanan di Bukittinggi, Senin malam (4/7). (Dok : Istimewa)
Ketua DPRD Sumbar, Supardi bersama peserta sosialisasi penguatan nilai-nilai kepahlawanan di Bukittinggi, Senin malam (4/7). (Dok : Istimewa)

Penulis: Arzil

Bukittinggi, Arunala - Ketua DPRD Sumbar, Supardi kembali jadi nara sumber dalam sosialisasi menyangkut penguatan nilai-nilai kepahlawanan kepada masyarakat.

Kali ini Supardi hadir dalam sosialisasi yang diadakan di salah satu hotel di Bukittinggi, Senin malam (4/7).

Hadir pula saat sosialisasi tersebut Kepala Dinas Sosial Sumbar, Arry Yuswandi.

Baca Juga

Sosialisasi pada hari itu, merupakan sosialisasi terakhir yang dilaksanakan untuk periode Tahun 2022.

Sebelumnya, kegiatan sosialisasi tersebut telah dilakukan di beberapa tempat lain.

"Penguatan nilai-nilai kepahlawanan sangat penting karena akan membentuk sudut pandang, serta kemudian membentuk pola pikir dan sikap," kata Supardi dihadapan para peserta sosialisasi itu.

Dia juga menyebutkan penguatan nilai-nilai kepahlawanan ini juga jadi bekal untuk mendidik serta membimbing generasi muda menjadi pribadi yang jauh dari pengaruh kenakalan remaja.

Makanya Supardi berharap, melalui peserta ini diharapkan penguatan nilai kepahlawanan akan menyebar luas, melalui keluarga, melalui penduduk-penduduk di tiap kelurahan.

Supardi mengatakan penguatan nilai-nilai kepahlawanan sangat penting karena akan membentuk sudut pandang, serta kemudian membentuk pola pikir dan sikap.

Dia mengatakan, pada sejumlah masyarakat saat ini muncul ketidakpercayaan pada orang-orang yang seharusnya menjadi panutan seperti orang tua, guru, ninik mamak, tokoh masyarakat atau juga ustad.

Kemudian ada pula permasalahan maraknya informasi yang masuk melalui internet seperti youtube dan google. Ini akan mempengaruhi kultur serta pola pikir.

"Itulah mengapa penguatan nilai-nilai kepahlawanan perlu dilakukan di tengah masyarakat. Agar ruang-ruang kosong dan idola serta panutan ini terus terisi penuh," ujarnya.

Supardi mengatakan saat ini ditemukan kecenderungan semakin tingginya kasus kenakalan remaja. Terutama di daerah-daerah transit.

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya. Pertama selain juga dikarenakan pengaruh informasi serta tontonan yang masuk melalui jaringan internet.

Hal ini menurut dia terjadi karena generasi muda kesusahan menentukan mana hal yang baik dan mana hal yang buruk di tengah-tengah gencarnya informasi dan tontonan yang masuk melalui berbagai alat, salah satunya internet.

"Selain itu pula dikarenakan generasi muda kehilangan sosok idola yang bisa mereka contoh untuk menjadi sosok yang lebih baik. Atau bisa jadi pula mereka salah menempatkan sosok yag dijadikan idola," ujarnya.

Anak-anak zaman sekarang, lanjut Supardi kebanyakan merasa bahwa tokoh-tokoh fiktif di film-film lah yang merupakan pahlawan.

Tokoh-tokoh inilah kemudian yang mereka idolakan, mereka tiru dan mereka contoh. Misalnya seperti Batman, Superman.

"Padahal tokoh-tokoh ini tidak nyata, hanya fiktif. Masalah yang dihadapi pun tidak bersentuhan dengan permasalahan di negara ini," jelasnya.

Secara psikologi, lanjut Supardi, nilai kepahlawanan mereka tidak tertanam di alam bawah sadar bawah sadar. Sehingga tidak ada pula keinginan untuk mencontoh pemikiran, sikap para pahlawan ini.

"Nilai kepahlawanan sangar bergantung pada sudut kita memandang maka amat perlu kita mengajarkan serta mensosialisasikan tentang pahlawan kita. Dengan begitu generasi muda akan mengenal lalu mencontoh pada pahlawan-pahlawanan ini," ujarnya.

Di lain sisi, lanjut Supardi amat sedikit dokumen atau literasi tentang para pahlawan tersebut. Begitu pula untuk pahlawan-pahlawan asal Ranah Minang.

"Salah satunya tentang M Natsir. Dokumen atau literasi tentang M Natsir sangat sedikit, padahal tanpa beliau tidak ada NKRI melainkan hanya RIS," tukas Supardi. (*)

Komentar