Ortu Diminta Waspada dan Perhatikan Frekuensi BAK Anak

Metro- 20-10-2022 20:13
Ilustrasi ginjal. (Dok : Istimewa)
Ilustrasi ginjal. (Dok : Istimewa)

Penulis: Fajril

Padang, Arunala.com - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumbar mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus gangguan ginjal akut pada anak.

Hal ini seiring terjadinya peningkatan kasus gagal ginjal akut pada anak saat ini.

"Kita mengimbau kepada orang tua (ortu) untuk tetap waspada, namun jangan cemas berlebihan," kata Ketua IDAI Sumbar, Dr dr Finny Fitry Yani SpA (K), kepada wartawan, di aula Dinas Kesehatan Sumbar, Kamis (20/10).

Baca Juga

Ia meminta masyarakat agar tidak menganggap enteng jika terjadi gejala demam, batuk, pilek yang dialami anak.

"Jika anak demam jangan buru-buru beli obat bebas. Tahan dulu beli obat bebas," tegas Finny.

Ia mengatakan jika ada gejala demam dengan suhu 38 derajat celcius, orang tua cukup memberikan kompres dan meminumkan air putih pada anak. "Ini pertolongan pertama yang harus dilakukan," tuturnya.

Ia mengatakan jika sudah dua hari belum juga turun panas badan anak, silakan dibawa ke puskesmas dan klinik kesehatan. Pasalnya di puskesmas sudah ada dokter yang akan menanganinya.

"Insya Allah, dokter di puskesmas sudah bisa membedakan tingkatan kewaspadaan. Bahkan sudah aware dengan kasus-kasus seperti ini dan sudah mengetahui kasus-kasus seperti apa yang perlu dirujuk," ucapnya.

Selain gejala pilek, batuk dan demam, sebut Finny, orang tua harus juga mewaspadai volume dan frekuensi buang air kecil (BAK) anak.

"Tantangan tersendiri bagi orang tua karena tidak semua memerhatikan volume dan frekuensi anak BAK (buang air kecil). Termasuk memantau kepekatan urine. Jika selama 6 jam anak tidak buang air kecil, maka cepatlah melakukan pemeriksaan ke Puskesmas dan klinik kesehatan," tuturnya.

Tidak hanya masyarakat, Finny menyebutkan IDAI Sumbar juga mengimbau 90 dokter spesialis anak di Sumbar tetap meningkatkan kewaspadaan terkait kasus ini.

"Teman-teman di daerah sudah dibekali apa yang perlu diwaspadai. Ini dari segi layanan kami selaku dokter anak," ucapnya.

Ia berharap mudah-mudahan kasus ini menurun. Kemudian, penyebab-penyebab kasus ini dapat ditemukan secara evidence based.

"Kalau kita di kedokteran, mencari segala sesuatu dengan evidence based medicine," tukas Finny.

Sementara ahli nefrologi RSUP M Djamil Padang, dr Aumas Pabuti SpA (K) MARS mengatakan penyebab gagal ginjal akut yang menyerang anak-anak masih diteliti.

"Penyebab sedang dalam proses penelitian. Jadi, kalau ada edaran terkait (penarikan obat) cairan dan sebagainya itu adalah salah satu faktor yang patut diduga menjadi pemicu," kata Aumas.

Ia berharap Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dapat mengendalikan penyakit ini dari pemicunya. "Jadi belum sesuatu yang 100 persen (penyebabnya) tapi mitigasi harus terus dilakukan. Kita ingin mitigasi supaya bisa dikendalikan dari hulunya.

"Kita masih terus melakukan koordinasi dengan tim Kemenkes untuk mengetahui lebih jauh sebenarnya apa penyebabnya," jelasnya.

Hingga kini, pihaknya belum dapat menyimpulkan penyebab yang membuat anak-anak mengalami gangguan ginjal.

"Belum bisa ditetapkan salah satu faktor. Jadi ini adalah salah satu upaya mitigasi yang patut diduga sebagai pemicu," tutur Aumas.

Di sisi lain, Kepala Dinas Kesehatan Sumbar dr Lila Yanwar MARS mengatakan pihaknya bersama IDAI Sumbar telah membuat satuan petugas (Satgas) penanganan kasus ini.

"Kita dari Dinkes prinsipnya menunggu lebih clear informasi yang sedang dikembangkan dari hasil pengamatan terhadap klinis pasien di seluruh Indonesia. Termasuk perkembangan hasil laboratorium. Memang, berkembang terus dan belum bisa diambil kesimpulan. Ini penyebabnya apa dan etiologinya apa," tutur Lila.

Makanya, sebut Lila, pihaknya masih menunggu untuk edukasi lebih lanjut kepada masyarakat. Ini karena masih menjadi tanda tanya bagi masyarakat.

"Ini penyebabnya apa. Bagaimana cara mengatasinya. Namun tentunya apakah menular atau sebaliknya, ini masih dalam perkembangan.

Dengan kondisi demikian, sebut Lila, Dinkes akan melakukan penguatan koordinasi dengan pihak terkait termasuk Balai POM dan menunggu arahan dari Kementerian Kesehatan.

Dan meningkatkan deteksi mulai dari dokter-dokter di Puskesmas dan dinas kesehatan kabupaten kota.

"Dinas kesehatan kabupaten kota melakukan penelusuran atau disebut surveilans. Ini berguna untuk melihat keluarga-keluarga yang anaknya mengalami gangguan ginjal untuk kemudian diselidiki secara epidemiologi. Setelah dilakukan surveilans, akan terlihat apakah penyakit tersebut disebabkan karena faktor konsumsi makanan, konsumsi obat, faktor lingkungan, faktor keluarga dan apakah ada dari anggota keluarga yang terkena Covid-19. Nanti data-datanya akan dikompilasi dengan analisa teman-teman dari rumah sakit," tukasnya.

Komentar