Usia 36 Tahun, Anton Komaini jadi Guru Besar Termuda UNP

Edukasi- 25-01-2023 20:56
Prof Dr Anton Komaini SSi MPd. (Dok : Istimewa)
Prof Dr Anton Komaini SSi MPd. (Dok : Istimewa)

Penulis: Fajril

Padang, Arunala.com - Dosen Universitas Negeri Padang (UNP) Dr Anton Komaini SSi MPd berhasil meraih gelar profesor di usia 36 tahun.

Hal ini membuat Anton Komaini yang mengajar di Fakultas Ilmu Keolahragaan menjadi guru besar termuda UNP.

Ia ditetapkan sebagai profesor berdasar Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia pada tanggal 1 Desember 2022.

"Saya bersyukur atas pencapaian jabatan akademik tertinggi tersebut. Apalagi, jabatan guru besar merupakan impian setiap dosen. Semua ini berkat dorongan dan motivasi orang tua, istri dan para sahabat, tentunya juga dosen sesama mengajar," kata Anton Komaini kepada Arunala.com , di Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UNP, Selasa (24/1) kemarin.

Bukanlah hal mudah untuk mendapatkan gelar guru besar tersebut. Tridharma perguruan tinggi harus benar-benar dilakoni dengan baik.

"Tidak hanya sekadar mengajar saja. Tapi juga dituntut melakukan penelitian. Dan tentu saja pengabdian masyarakat," sebut pria kelahiran Tanjung Iman, Bengkulu ini.

Untuk penelitian ini, sebut Anton Komaini, bisa melalui dana hibah penelitian. Di sinilah peluang dosen mendapatkan produk-produk hasil penelitian.

Kemudian, menuangkannya dengan melahirkan karya ilmiah dan artikel yang diterbitkan di jurnal internasional bereputasi.

"Berkolaborasi dengan dosen lain, lebih kurang 22 karya ilmiah dan artikel telah diterbitkan. Baik di jurnal internasional terindeks pada basis data internasional bereputasi, jurnal internasional terindeks basis data internasional di luar kategori. Maupun jurnal nasional terakreditasi Kemenristekdikti Peringkat 3 dan 4," paparnya.

Di samping jurnal, sebut Anton Komaini, dia telah menerbitkan lima karya buku. Berjudul Kemampuan Motorik Anak Usia Dini, Tes dan Pengukuran, Model Permainan Edukatif untuk Pembelajaran Motorik. Pencegahan dan Perawatan Cedera Olahraga dan Keterampilan Motorik Anak Suku Pedalaman.

"Kemudian, saya telah memperoleh lima hak kekayaan intelektual (HKI) dalam kurun 5-10 tahun terakhir," ucap Anton Komaini.

Sementara pengabdian masyarakat ini, sebut Anton Komaini, salah satu caranya aktif di organisasi keolahragaan dan kepariwisataan baik provinsi maupun kota.

"Saya sempat aktif sebagai pengurus di 25 organisasi tersebut," tutur ayah dua anak ini.

Dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan UNP ini memang konsern pada motoric learning (ilmu motorik, red). Mengajar untuk beberapa mata kuliah seperti Motoric Learning, Pertumbuhan dan Perkembangan Fisik Motorik, Teknologi Olahraga.

"Selanjutnya, mengampu kuliah Fisioterapi Olahraga, Pariwisata Olahraga, Aquatic Sport, Metodologi Penelitian, dan Olahraga Rekreasi," ungkap alumni S-3 Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini.

Kini Anton Komaini menunggu penetapan jadwal pengukuhan dari Senat UNP.

"Mudah-mudahan bulan depan pengukuhan guru besar. Meski demikian, saya sudah mulai mempersiapkan orasi ilmiah untuk pengukuhan ini," ucap alumni S-1 dan S-2 UNP ini.

Ilmu Motorik

Di sisi lain, Anton Komaini menjelaskan tuntutan saat ini pada pendidikan dasar, anak-anak lebih dituntut pada perkembangan kognitif.

"Orang tua ingin menuntut anak berhasil dari sisi kognitif. Sehingga di usia mereka di bawah tujuh tahun telah dibebani bukan konsep mereka sendiri. Padahal, di usia tersebut masa mereka bermain," ungkapnya.

Dari teori-teori perkembangan anak pun, tutur Anton Komaini, di usia emas tersebut masa bermain.

Ketika bermain itulah, perkembangan bagian tubuh lainnya harus dikembangkan.

"Misalnya, ketika mereka bermain sambil belajar, mereka belajar warna sambil bermain dan belajar angka sambil bermain. Itu kan disepakati secara luas," tutur pria kelahiran 1986 ini.

Tapi kenyataannya, tuntutan orang tua itu anak harus bisa membaca, menulis dan berhitung (calistung). Dan, di sekolah pun hal tersebut terjadi.

"Ketika anak-anak itu sudah bernyanyi dan berdoa di halaman sekolah. Mulai dari masuk sampai selesai, anak dituntut calistung. Bahkan ada beberapa sekolah dasar mewajibkan anak harus bisa calistung," ungkap Anton Komaini.

Ia mengatakan perkembangan mereka ketika bermain itu, maka dia akan mempengaruhi perkembangan sosial emosional (mereka bisa bekerja sama, menghargai orang, bisa disiplin dan kompetisi) dan perkembangan kognitif.

"Ketika dia duduk di dalam kelas, selain bisa menulis angka-angka, tetapi hubungan emosionalnya dengan teman lain tidak terjadi," ucapnya.

Melihat kondisi demikian, sebut Anton Komaini, dia pun melakukan penelitian hingga ke Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Dia meneliti kebiasaan orang pedalaman. Dari temuan itu, mereka ternyata kaya akan gerak.

"Semakin kaya gerak, anak itu lebih siap menghadapi tantangan ke depan. Artinya, dari segi fisik mereka lebih cekatan dan siap. Dari sisi sosial emosional, mereka bisa menghargai dan kompetisi bermain dan kognitifnya jalan," tuturnya.

Dari beberapa hasil penelitian dilakukannya, status ekonomi tidak mempengaruhi motorik anak. Yang mempengaruhi adalah budaya dan pola asuh.

"Orang pedalaman ternyata memiliki pola asuh demokratif. Mereka tahu kapan anak itu kembali dan kapan anak itu dibiarkan," ucapnya seraya mengatakan dari beberapa temuan, dia pun menciptakan model permainan beberapa kasuistis.

Ia mengatakan jika ini diterapkan, anak lebih siap menghadapi tantangan.

"Pintar saja tidak cukup. Anak tersebut harus kaya gerak. Pengayaan gerak itu cikal bakal anak siap menghadapi tantangan ke depan. Kalau tidak mempunyai kemampuan motorik, dia akan tersingkir dengan sendirinya," tegasnya seraya mengatakan motoric learning ini harus dimengerti semua orang tua. Oleh karena itu, jangan batasi ruang gerak anak. (***)

Komentar