.
Sedangkan Ketua DPW PKB Sumbar Febby Datuak Bangso Nan Putiah mengatakan dalam politik ada dua hal yang perlu dipahami terlebih disaat pilkada.
"Pertama realistis, Kedua yaitu kompromi. Kami tentu harus tahu pula kondisi partai. Tidak akan bisa mengusung calon kalau sendiri," terang Febby.
Makanya, sambung dia, jalur kompromi yang digunakan yakni dengan menggabungkan perolehan kursi kami agar Koalisi Poros Baru ini bisa pula mengusung calonnya di Pilgub Sumbar.
Dia juga sepakat dengan membentuk koalisi, pihaknya memberi kesempatan kepada pasangan calon yang ingin ikut di dalam kompetisi Pilgub.
Febby menjelaskan, untuk bisa mengusung pasangan calon di Pilgub Sumbar, parpol atau gabungan parpol membutuhkan minimal 13 kursi DPRD provinsi. Satu parpol yang bisa tanpa koalisi hanya Partai Gerindra dengan 14 kursi.
"Dengan komposisi Partai Golkar, Nasdem dan PKB, maka kami telah memiliki total 14 kursi. Sehingga sudah bisa mengusung pasangan calon," sebut Febby.
Sungguh pun begitu, baik Febby, Desra dan juga Sekretaris DPW NasDem Sumbar Musmaizer tetap membuka diri jika PDI Perjuangan Sumbar mau ikut bergabung di Koalisi Poros Baru ini.
Sementara Musmaizer, mengatakan untuk koalisi yang mereka bentuk memang tiga partai karena saat pembentukannya, PDI Perjuangan Sumbar hanya menyaksikan kehadiran pertemuan tiga petinggi Parpol saja.
"Kami berkeyakinan PDI Perjuangan akan memberikan dorongan dan ikut serta bergabung dengan Koalisi Poros Baru, orientasi mengusung paslon sejiwa dengan PDI Perjuangan," ujar Musmaizer.
Terakhir, Wakil Ketua DPD Golkar Sumbar Afrizal menegaskan kehadiran Koalisi Poros Baru untuk mencari calon pemimpin Sumbar di pilgub kali ini.
"Target kami, paslon yang diusung koalisi ini menang dalam kontestasi Pilgub Sumbar 2020," kata Afrizal.


Komentar