.
Kemarin bapak Wakil Presiden mencanangkan Indonesia menjadi Pusat Halal Dunia. Tidak sekadar slogan saja tapi juga dibutuhkan usaha yang sungguh-sungguh dan kolaborasi dengan semua pihak. Ini yang harus kita rebut.
Jadi apa itu industri halal? Industri yang betul-betul sesuai dengan landasan syariah.
Kita tidak main-main ya. Soal industri halal kalau menurut saya, tanggung jawabnya tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat.
Bagaimana perkembangan industri halal di dunia khususnya Indonesia?
Prof Irwandi Jaswir: Kita lihat indeks ekonomi Islam yang dikeluarkan Dubai, Indonesia saat ini berada pada posisi ke empat. Peringkat pertama dipegang Malaysia.
Beberapa tahun lalu, Indonesia berada di peringkat ke-10 atau 11. Nah itu dari sisi rangking yang menyangkut pada perhatian pemerintah, ekosistem di sebuah negara dan lainnya.
Menjadi persoalan kedua adalah seberapa besar kita menikmati kue 3,1 triliun dolar per tahun tadi. Jadi ada dua hal ini yakni rangking dan penguasaan halal dunia.
Kenyataan sekarang, pemain utama untuk sektor-sektor tertentu justru negara nonmuslim.
Contohnya Australia dan Selandia Baru untuk daging halal, Brazil untuk ayam halal, Korea Selatan untuk kosmetik, dan Thailand untuk pangan halal.
Jadi saya melihat baik negara muslim maupun nonmuslim berlomba-lomba merebut peluang halal ini. Kalau kita tidak siap, ya akhirnya kita menjadi pasar. Saya akan bisa melihat arah ke sana.
Misalnya Korea Selatan yang fokus ke kosmetik. Hampir 2.300 pabrik kosmetik ada di Korea Selatan.
Banyak produk kosmetik di Asean dibuatnya di Korea Selatan. Sekarang dengan budaya korea masuk kemana-mana. Pemerintahnya pun memberikan subsidi.
Kalau masuk ke industri halal, urusan pengurusan halal disubsidi pemerintah. Oleh karena itu, jangan sampai salah fokus.
Saya tidak menganggap sertifikasi halal tidak penting. Sertifikasi halal itu penting tapi jangan lupa mengembangkan industrinya. Agar kita mendapat impact ekonominya yang lebih jelas.
Jadi apa kendala industri halal di Indonesia?


Komentar