.
Ia mengingatkan, daerah tidak boleh lagi bersikap pasif. Pemkab dan pemko didorong untuk menjemput peluang, memastikan kesiapan lahan, serta memberikan pendampingan berkelanjutan kepada investor.
"Daerah yang ramah investasi adalah daerah yang bergerak cepat, responsif, dan mampu menyelesaikan persoalan di lapangan," tegasnya lagi.
Untuk itu, Pemprov Sumbar terus mendorong transformasi birokrasi menuju sistem yang modern, terintegrasi, dan berbasis digital melalui OSS, dengan perizinan yang cepat, transparan, dan bebas tumpang tindih regulasi.
Vasko juga mengungkapkan bahwa tahun 2027 menjadi momentum penting sebagai titik balik pertumbuhan investasi di Sumatera Barat, dengan target mencapai Rp13,3 triliun.
Target tersebut merupakan bagian dari tren peningkatan investasi yang diproyeksikan naik dari Rp11,9 triliun pada 2026 hingga mencapai Rp18,8 triliun pada 2030.
"Arah kebijakan kita jelas, fokus pada hilirisasi pertanian, pariwisata unggulan, energi terbarukan, infrastruktur, serta penguatan UMKM dan industri lokal," ujarnya.
Di tengah berbagai tantangan seperti keterbatasan fiskal dan risiko bencana, Vasko menegaskan, Sumbar memiliki peluang besar untuk bertransformasi.
"Kita tidak hanya bicara rencana, tetapi komitmen bersama. Kuncinya satu: kolaborasi. Jika kita bergerak bersama, maka pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan kesejahteraan masyarakat bisa kita wujudkan," tutupnya. (*/dpg)


Komentar