KIM Mitra Strategis Cegah Penularan Covid-19

Metro-57 hit 30-09-2020 21:30
Dirjen IKP Kemenkominfo, Widodo Muktiyo. (Dok : Istimewa)
Dirjen IKP Kemenkominfo, Widodo Muktiyo. (Dok : Istimewa)

Penulis: Amazwar Ismail | Editor: MN. Putra

Jakarta, Arunala - Kementerian Komunikasi dan Informatika, berupaya menjadikan kebiasaan 3M (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan pakai sabun) sebagai budaya baru bagi masyarakat saat beraktivitas sehari-hari.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (Dirjen IKP) Kemenkominfo, Widodo Muktiyo pada acara Web Seminar bertajuk 'Adaptasi Kebiasaan Baru: Patuh Jaga Jarak, Tetap Produktif dan Aman Covid-19', yang diikuti 135 orang pegiatKelompok Informasi Masyarakat (KIM) dari kabupaten kota yang ada di Sumbar, Rabu, (30/9).

"Saat ini pemerintah concern menggalakkan kampanye jaga jarak dengan memberdayakan KIM sebagai mitra strategis dalam menggalakkan kampanye pencegahan penularan Covid-19," kata Widodo.

Baca Juga

Seperti membudayakan pakai masker dan cuci tangan, jaga jarak, sebut Widodo harus dijadikan gaya hidup baru.

"Ini menjadi tantangan buat Kita semua, harus konsisten untuk tidak berkumpul atau berkerumun," ujar Widodo.

Pada kesempatan sama, Widodo Muktiyo menyampaikan arahan Presiden Joko Widodo mengenai strategi komunikasi terkait Covid-19, bahwa hendaknya sosialisasi dilakukan secara terfokus dan tidak sekaligus.

Budaya masyarakat Indonesia yang juga sudah naluri manusia sebagai mahluk sosial adalah gemar berkumpul. Sehingga, sosialisasi dan kampanye jaga jarak memiliki tantangan tersendiri dan membutuhkan upaya lebih dari pemerintah untuk mengajak masyarakat mematuhi hal tersebut.

Sebab disiplin jaga jarak, lanjut Widodo dapat menekan angka penularan Covid-19.

Widodo mengajak KIM untuk terus dan semakin berperan aktif dalam membantu pemerintah mengimbau dan mendisiplinkan warga agar senantiasa menjaga jarak ketika berkegiatan di luar rumah.

Sementara, pemerhati kesehatan, Lula Kamal mengatakan masker dan jaga jarak itu sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dan sampai saat ini merupakan cara yang paling ampuh mencegah penularan langsung Covid-19 antar manusia.

"Droplet berisi virus Covid-19 keluar saat batuk, bersin dan bicara. Jika disiplin melakukan jaga jarak, maka kita dapat meminimalisir resiko terkena droplet yang keluar dari orang yang terjangkit Covid-19," kata Lula Kamal.

"Kita harus melandaikan kurva, meskipun Covid-19 belum bisa dihilangkan sepenuhnya. Kita berharap siapapun yang OTG harus disiplin pakai masker dan menghindari keramaian. Jika tidak dalam kerumunan, dia (OTG) tidak akan menularkan," sambung Lula lagi.

Sementara itu, Pemprov Sumbar melaluiKabid IKP, Indra Sukmamenyampaikan berbagai upaya yang telah dilakukan Pemprov Sumbar dalam menekan angka penularan Covid-19.

Misalnya mencegah terjadinya kerumunan atau memaksa masyarakat menjaga jarak, pemberhentian car free day, menerapkan pembatasan sosial berskala besar dan menerbitkan Peraturan Derah Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

"Pemprov dan DPRD Sumbar sepakat membuat Perda AKB untuk menekan penularan Covid-19 serta menjaga kedisiplinan masyarakat agar selalu menerapkan 3M," kata Indra Sukma.

Perda ini, jelas dia masih dalam tahap perbaikan, dan saat ini tengah berkoordinasi dengan Kemendagri.

"Dalam waktu dekat segera dapat diberlakukan," ujar Indra Sukma lagi.

Dia menambahkan, saat ini perkembangan kasus positif Covid-19 di Sumbar cenderung stagnan, dengan rata-rata kenaikan 200 orang per harinya. Berbagai tindakan masif telah ditempuh Pemprov Sumbar menekan angka tersebut.

Terakhir, Indra meneruskan pesan Kadis Jasman yang juga selaku Jubir Penanganan Covid-19 Sumbar.

"Patuhi protokol kesehatan dengan selalu memakai masker yang benar, mencuci tangan dengan sabun, jaga jarak dan terapkan pola hidup sehat. Dengan mengaplikasikannya, berarti Kita turut menjaga orang-orang yang disayangi. KIM se-Sumbar diharapkan dapat menginformasikan himbauan ini ke seluruh masyarakat," tutupnya. (rel)

Komentar