Padang, Arunala -- Keinginan sebagian elemen masyarakat agar Pilkada serentak 2020 diundur, tidak saja terjadi di tingkat nasional, namun keinginan itu juga digaungkan di sejumlah daerah yang akan pilkada.
Salah satu dari belasan Ormas dan lembaga yang meminta agar pesta demokrasi 2020 diundur datang dari DPP Pembela Kesatuan Tanah Air Indonesia Bersatu (Pekat IB).
Sikap DPP Pekat IB ini nyatanya juga diikuti oleh sejumlah Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Pekat IB beberapa provinsi termasuk di Sumbar.
"Secara organisasi, kami di Sumbar sejalan dengan keputusan DPP Pekat IB," kata Ketua DPW Pekat IB Sumbar Afrizal Djunit saat ditemui Arunala.com di Padang, Rabu (7/10).
Penilaian Afrizal, keinginan Ormas Pekat IB agar pilkada diundur bukan disebabkan persoalan politik. Karena situasi politik itu bagi masing-masing orang berbeda sudut pandangnya.
"Pemasalahan utama kenapa adanya permintaan pilkada serentak itu diundur adalah mewabahnya Covid-19, dan itu sudah mendunia, dan Indonesia salah satunya terdampak wabah tersebut," kata Afrizal.
Menurut dia, diperkirakan lebih dari 10 ribu orang yang meninggal akibat Covid di Indonsia saat ini, sementara pelaksanaan pilkada diadakan di tengah mewabahnya virus ini.
"Artinya peluang akan terjadinya penyebaran virus Covid dalam proses pilkada saat ini bisa dikatakan cukup terbuka, sementara kesiapan KPU selaku penyelenggara pilkada masih dipertanyakan misalnya langkah untuk mengantisipasi," tukas Afrizal.
Dia juga menegaskan, situasi pandemic Covid ini tidak bisa diprediksi oleh banyak pihak tentang kapan berakhirnya wabah Covid ini.
"Apalagi, bila sumber dana atau pembiayaan yang kurang dan SDM yang kurang dimiliki KPU, bisa saja titik kulminasi penyebaran virus Covid terjadi di saat pilkada nanti," jelasnya.
Alasan Afrizal menyebutkan munculnya titik kulmilasi di pilkada itu, karena tempat berkumpulnya orang-orang itu akan banyak melalui proses pilkada itu.
Dia mencontohkan, berkumpulnya orang-orang ini bukan hanya terjadi pada hari pencoblosan saja, tapi juga terjadi sebelum hari H. next


Komentar