.
Upah penjahit di sana jauh lebih murah dibanding upah penjahit di Padang. Namun tidak bagi Elsa. Dia memilih mengawinkan bisnis dengan pemberdayaan masyarakat.
"Kenapa harus produksi di Padang? (Karena) produk domestik bruto (PDB) Sumbar, termasuk Padang, relatif rendah dibanding daerah lain. Sumbar membeli semuanya dari Jawa. Produksi kain dan penjahitan di Jawa, baru pakaiannya dibawa ke Padang. Kalau semua dioper ke Jawa, uang tidak akan berputar di Padang," tutur Elsa
Di Padang, ia mengeluarkan biaya produksi gamis sekitar Rp45.000 per helai. Untuk masalah upah penjahit di Padang relatif tinggi.
Mereka mematok upah menjahit Rp100.000 - Rp150.000 per helai pakaian. Padahal, Elsa hanya bisa menawarkan upah Rp25.000 per helai. Pertimbangannya, pesanan dari dia akan berkelanjutan.
Selain itu, pekerjaannya lebih sederhana, yaitu menjahit pola kain yang sudah dipotong.
Bahan-bahannya juga disediakan Elsa. Saat ini, dalam sebulan, Elsa mengeluarkan Rp30 juta - Rp50 juta untuk upah 30 mitra penjahit yang sebagian besar adalah tetangga Elsa dan warga di sekitar rumah produksi. Sisanya tersebar di beberapa lokasi di Kota Padang.
Pandemi Covid-19 yang menjadi momok bagi sebagian besar pengusaha justru memberi peluang bagi Elsa dan mitra-mitranya.
Angka penjualan produk Maharanni yang dilakukan secara daring meningkat berkali-kali lipat. Mitra penjahit pun bertambah signifikan demi memenuhi permintaan pasar.
"Dampak pandemi Covid-19 justru positif bagi Maharanni. Peningkatan penjualan mencapai tiga kali lipat dimulai pada Juni-Juli 2020. Sejak saat itu sampai sekarang penjualan terus meningkat. Rezeki ini juga mengalir kepada mitra. Mereka bisa mendapat penghasilan lumayan, yakni Rp 1,5 juta hingga Rp4 juta per bulan," ungkap alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas ini.
Tidak sekadar menjahit dan mendapatkan upah. Setiap sebulan sekali para mitra jahit ini berkumpul di rumah produksi. Mereka melakukan pengajian bulanan sekaligus pemberian beras.
"Bahkan, tahun lalu, kami memberikan reward dua mitra penjahit diikutsertakan kurban pada Hari Raya Idul Adha. Ini sebagai bentuk apresiasi atas usaha dan kerja keras mereka," ucapnya.
Akhir tahun lalu, Elsa berkolaborasi dengan mahasiswa Program Studi Tata Busana Universitas Negeri Padang dalam membuat pola dan memotong pakaian.
"Kolaborasi ini malah turut membantu jalannya bisnis ini. Kami pun terus berupaya mengikuti perkembangan selera, warna dan tren fesyen muslimah. Tanpa meninggalkan identitas Maharrani," tuturnya.
Maharrani kini mampu memproduksi 3.000 helai setiap bulan. Produk yang dijual secara online ini memiliki 60 agen dan ratusan reseller tersebar di dalam maupun luar negeri.


Komentar