Padang, Arunala.com - Ada hal menarik yang mengapung yang disampaikan dua pembicara saat sosialisasi Akulturasi dan Asimilasi Budaya Tionghoa di Nusantara yang diadakan di aula pertemuan di gedung Museum Sumatera Barat (Sumbar), Selasa (16/5).
Dua pemateri masing-masing Budayawan Edi Utama dan Anggota DPRD Sumbar Fraksi PDI Perjuangan, Albert Hendra Lukman. Mereka berdua mencoba menjelaskan perkembangan etnis Tionghoa yang ada di Sumbar, khususnya di Kota Padang.
Paparan Edi Utama, akulturasi dan asimilasi etnis Tionghoa di Indonesia sebenarnya sudah terjadi pada abad ke-5 lalu di Nusantara ini. Dimana komunitas Tionghoa itu berdiam di beberapa perkampungan pesisir pantai yang ada di Pulau Jawa.
Kemudian dari literasi budaya yang dibacanya, Edi Utama menyebutkan, pada abad ke-15, etnis Tionghoa di Nusantara ini makin dapat tempat, karena di abad itu ada seorang Panglima Tiongkok bernama Laksamana Cheng Ho.
"Seiring berjalannya waktu proses akulturasi dan asimilasi etnis Tionghoa terus berkembang termasuk di Sumbar, khususnya di Kota Padang ini, yang kemudian kini dijalankan para etnis keturunan Tionghoa," kata Edi Utama.
Sungguh pun begitu, lanjutnya, ada hal menarik diperhatikan, bahwa etnis Tionghoa yang ada di Kota Padang saat ini, cukup banyak dari mereka yang tidak bisa lagi berbahasa Mandarin.
"Yang terlihat, justru para keturunan etnis Tionghoa yang ada itu malah lebih menggunakan bahasa Padang (Minang, red), meski dialek dan logat bahasanya berbeda dengan dialek bahasa Minang yang ada," tutur Edi Utama lagi.
Meski demikian, lanjut dia, ini menunjukkan akulturasi dan asimilasi budaya etnis Tionghoa ini sudah berlangsung lama di Kota Padang ini.


Komentar