Sosialisasi Akulturasi dan Asimilasi Budaya Tionghoa di Nusantara: Albert: Jadi Buah Bibir Karena Tak Bisa Bahasa Asal

Metro- 16-05-2023 16:25
Dua pemateri berikan penjelasan masing-masing terkait keberadaan etnis Tionghoa dalam FGD dan sosialisasi Akulturasi dan Asimilasi Akulturasi dan Asimilasi Budaya Tionghoa di Nusantara di gedung budaya Sumbar, Padang, Selasa (16/5). (Foto : Arzil)
Dua pemateri berikan penjelasan masing-masing terkait keberadaan etnis Tionghoa dalam FGD dan sosialisasi Akulturasi dan Asimilasi Akulturasi dan Asimilasi Budaya Tionghoa di Nusantara di gedung budaya Sumbar, Padang, Selasa (16/5). (Foto : Arzil)

.

Sedangkan pemateri lainnya,
anggota DPRD Sumbar Albert Indra Lukman menjelaskan, pembauran budaya masyarakat Tionghoa di Kota Padang sudah lama terjadi.

"Bahkan, bukti sudah berbaurnya budaya Tionghoa dengan masyarakat di Padang, ada yang tidak dikenal di Tiongkok sendiri, misalnya atraksi Sipasan. Di Tiongkok, ini tidak ada, justru di Padang yang ada. Ini lah salah satu bukti pembauran budaya kami (Tionghoa) dengan masyarakat Minang yang ada di Padang," kata Albert yang juga merupakan keturunan Tionghoa ini.

Hal itu, sebutnya, menunjukan bahwa budaya Tionghoa di Padang juga memperhatikan kearifan lokal.

"Budaya Tionghoa ini merupakan bagian dari budaya Republik Indonesia ini. budaya kami bukan budaya eksklusif, justru kami membuka diri sehingga bisa terjadi pembauran budaya di Nusantara ini, khususnya di Padang," tukas Albert.

Kemudian, mengenai bahasa yang dipakai komunitas Tionghoa di Padang, Albert mengaku menggunakan bahasa lokal bukan bahasan Mandarin.

"Untuk bahasa, memang diajari di dalam lingkungan keluarga. Namun sebagai generasi Tionghoa yang ke sekian, kami justru beradaptasi dengan bahasa lokal, sehingga sudah jarang dari kami yang bisa bahasa asal kami," jelas Albert.

Menariknya, sambung dia, keturunan Tionghoa yang kini ada di Padang dan Sumbar umumnya jadi buah bibir bagi keturunan Tionghoa yang ada di Medan, Jambi dan daerah lainnya.

"Soalnya, kami yang di Padang tidak lagi bisa berbahasa leluhur, malah berbahasa Minang. Sebaliknya saudara-saudara kami yang di luar provinsi ini masih ada menggunakan bahasa leluhur mereka (Mandarin, red)," ulas Albert.

Meski begitu, imbuhnya, keturunan Tionghoa yang ada di Padang ini tetap merasa bangga karena menjadi warga Indonesia, khususnya menjadi bagian masyarakat Kota Padang," pungkas Albert Hendra Lukman.

Di sisi lain, sosialisasi yang diikuti FGD bertemakan "Akulturasi dan Asimilasi Budaya Tionghoa di Nusantara" ini merupakan kolaborasi DPRD Sumbar melalui Pokir Albert Hendra Lukman bersama Dinas Kebudayaan Sumbar.

Sosialisasi ini juga dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, Saifullah dengan peserta FGD berasal dari para jurnalis yang ada di Kota Padang. (cpt)

Komentar