.
Sementara itu, Kepala LPPM Unand Dr Ing Uyung Gatot S Dinata mengatakan kehadiran lounge buku karya dosen Unand ini dilatarbelakangi adanya rasa kekhawatiran atas kondisi gedung LPPM dan banyaknya buku-buku yang diserahkan oleh dosen Unand dan terkumpul di lembaga ini.
Makanya pihaknya berinisiatif menyerahkan buku-buku karya dosen tersebut ke UPT Perpustakaan Unand dan diletakkan di sebuah ruangan khusus.
"Itu tentunya akan memberikan banyak manfaat," tutur Uyung.
Ia mengatakan kehadiran lounge buku karya dosen Unand ini istimewa. Karena bisa memperlihatkan produktivitas dosen Unand melahirkan karya dalam sebuah buku.
"Bahkan menurut web Sinta itu, dosen Unand terbanyak nasional melahirkan karya. Kita berpacu dengan Universitas Brawijaya dan Universitas Indonesia," ungkapnya.
Tiga tahun terakhir, Ia heran jumlah produksi buku dosen Unand mengalami penurunan. Biasanya setahun 1.500 judul buku tapi akhir-akhir ini turun 550 judul buku.
Hal ini dikarenakan dibatasi ISBN-nya oleh Perpustakaan Nasional.
"Jumlah buku ber-ISBN saat ini kurang lebih 3.542 judul buku atau 3.542 hak cipta. Jadi dari buku itu otomatis menjadi hak cipta ketika penulisnya mendaftarkannya ke Ditjen HKI KemenkumHAM. Sedangkan jumlah eksemplarnya adalah 7.098 eksemplar buku," paparnya.
Uyung menyebutkan total produksi kurun waktu lima tahun terakhir, 500 sampai 1.500 judul buku ber-ISBN per tahun.
"Jadi, bisa dikatakan tidak bisa tertampung di LPPM. Apalagi hard copy. Kita akan coba mengarahkannya kepada pdf dan e-book," ucap Uyung.
Ia mengatakan Rektor Unand telah menganggarkan tiap tahunnya insentif dosen dalam melahirkan karya buku dengan jumlah anggaran cukup besar.
"Jumlah buku ini mendukung indikator kinerja utama (IKU). IKU Unand itu IKU 5. Terkait dengan buku tersebut, tahun ini kurang lebih 12.000. Dimana setiap dosen itu menghasilkan 7 luaran atau 700 persen. Baik buku, scopus, prosiding, sinta, hak paten, hak cipta dan sebagainya," ungkap Uyungnext


Komentar