.
Alhamdulillah, kata Roni, dengan kasus ini kesempatan menunjukkan mereka (tim dokter) mampu dan bisa.
"Bapak Dirut pun sudah membentuk tim. Terdiri dari ortopedi Dr dr Roni Eka Sahputra SpOT (K) Spine sebagai ahli tulang belakang, kolaborasi dengan toraks kardiovaskular, anestesi yang melakukan pembiusan," debutnya.
Kemudian bagian neurologi yang mendeteksi syaraf pada tulang belakang itu aman atau tidak.
"Jadi ada alat intra operative monitoring yang mengawasi dan mengevaluasi terhadap tindakan yang kita lakukan," sebut Roni.
Ditopang oleh bagian pulmonologi anak, bagaimana kekuatan paru-parunya bisa menopang.
"Sebenarnya pasien tidak mengalami keluhan. Keluhan kosmetik yang terjadi. Dia depresi dikarenakan temannya menjauh karena lain dari teman biasa. Gurunya pun melihat seperti menghindar karena ada kelainan pada tulang belakangnya," ungkapnya.
Ia menekankan kasus ini bukan kasus emergency. Kasus ini karena memang beratnya sudut yang terbentuk itulah yang harus dikoreksi.
"Pada bagian rehabilitasi medik diharapkan juga bisa membantu, peningkatan gizi dan penunjang lainnya. Dengan begitu besarnya tim terbentuk sehingga bisa didiskusikan dengan baik," tuturnya.
Ia mengatakan pihaknya juga menyiapkan operasi dengan baik dengan segala minimal risiko yang ditemui. Salah satunya menyiapkan alat-alat sebelum operasi.
Yakni intra operative monitoring berfungsi untuk memonitor fungsi saraf pada tindakan operasi yang berpotensi mencederai saraf dan bertujuan untuk memperbaiki fungsi saraf.
"Ketika kita pasang implan dan screw terkena syarafnya, jadi ada gelombang-gelombang menunjukkan ada perubahan. Alat ini bisa membantu ketika menyenggol dari syaraf, mesin ini langsung menyampaikan ada masalah. Dan kita beralih dari tempat itu. Seperti navigasi," paparnya.
Cell server yaitu sel darah yang keluar karena operasi yang dilakukan bisa diolah dalam mesin lagi.
Kemudian darah yang diolah tersebut bisa dimasukkan lagi ke dalam tubuh pasien.


Komentar