Peringatan 100 Tahun Kelahiran AA Navis: Kehadiran Tiktok Tak Mampu Saingi Karya AA Navis

Metro- 09-03-2024 17:41
Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), Itje Chodidjah berikan penjelasan saat jadi narasumber pada acara peringatan 100 tahun AA Navis, di Youth Center Kota Padang, Sabtu sore (9/3). (Foto : Arunala.com)
Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), Itje Chodidjah berikan penjelasan saat jadi narasumber pada acara peringatan 100 tahun AA Navis, di Youth Center Kota Padang, Sabtu sore (9/3). (Foto : Arunala.com)

Padang, Arunala.com - Ketua HarianKomisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), Itje Chodidjah menyampaikan kekhawatiran dia atas meredupkan eksistensi karya sastra di Indonesia. Dipandang sebelah mata karena disaingi oleh Tiktok dan YouTube.

Ini disampaikan Itje Chodidjah saat hadir sebagai nara sumber pada acara peringatan 100 tahun AA Navis pengarang "Robohnya Surau Kami", yang diadakan di Youth Center, Kota Padang, Sabtu (9/3).

"Meski begitu, karya sastra yang dilahirkan AA Navis cukup berbeda dari yang lain.

Secara pribadi saya menilai karya sastra dari AA Navis itu memuat berbagai elemen kehidupan seperti sosial, lingkungan hidup, budaya dan lainnya. Semua terkombinasi dalam karya yang dilahirkan sosok AA Navis ini," kata Itje Chodidjah dihadapan peserta dan nara sumber lainnya yang hadir pada acara peringatan itu.

Bahkan lanjut Itje Chodidjah, karya sastra yang dilahirkan AA Navis ini memuat seluruh pemikirannya tentang apa yang dilihat dan dirasakan oleh AA Navis pada kondisi dsn lingkungan yang dialaminya.

Selain itu, Itje Chodidjah juga melihat ada beberapa alasan kenapa AA Navis ini layak dianggap sebagai layak sebagai seorang Sastrawan internasional.

"Alasan pertama, yakni karya sastra AA Navis ini menarik dan berani, dan karyanya itu dapat dibaca oleh semua negara, makanya karya sastra AA Navis ini mendapat apresiasi dari berbagai negara," tukas Itce.

Alasan kedua, sambungnya, novel "Robohnya Surau Kami" paling banyak pembacanya di berbagai negara, disamping novel lainnya seperti "Kemarau" yang berbicara tentang alam dan karya sastra lainnya.

Itce menegaskan, karya sastra itu adalah alat untuk berfikir, bagaimana seseorang itu bisa berimajinasi ketika tidak dapat berfikir.

"Alasan ketiga, yakni AA Navis adalah analisis melalui berbagai kritik dan pandangan kritisnya termasuk dari kita beragama. Meski dalam karyanya memuat berbagai kritikan, namun melalui "ayat-ayatnya" dalam sebuah karya sastra yang terjemahannya menurut saya mampu mengubah pandangan agama, saya sangat sepakat karena karya AA Navis itu langsung menyentuh hati semau orang," tukas Itcenext

Komentar