Supardi Ngabuburit ke Pasa Pabukoan: Cari Kuliner Unik dan Tradisional Payakumbuh

Metro- 17-03-2024 13:23
Ketua DPRD Sumbar, Supardi saat membeli pabukoan pada salah satu pedagang tradisional di Pasar Payakumbuh, Jumat sore (14/3). (Dok : Istimewa)
Ketua DPRD Sumbar, Supardi saat membeli pabukoan pada salah satu pedagang tradisional di Pasar Payakumbuh, Jumat sore (14/3). (Dok : Istimewa)

Payakumbuh, Arunala.com - Setelah beraktivitas sejak pagi, Ketua DPRD Sumbar, Supardi, tiba-tiba meminta mobil voreijder yang memimpin kendaraan rombongan ketua dewan ini untuk berhenti di Pasar Payakumbuh, Jumat sore lalu. Rombongan kaget, karena tidak ada agenda masuk ke pasar.

"Kita turun di sini, lalu berjalan ke Pasa Pabukoan, sambil silaturahmi dengan masyarakat," kata Supardi yang diikuti oleh rombongan.

Supardi lalu menyusuri lorong Pasar Payakumbuh, sembari bersalaman dengan banyak kawan kawannya. Tidak ada jarak. Senyum dan tawa mengembang, tidak terkecuali tukang ojek yang sedang beristirahat.

"Saya besar dan dibesarkan di Pasa Payokumbuah," ucap Supardi kepada Kepala Divisi Pemasaran Bank Nagari, Syafrizal yang mendampinginya.

Payakumbuh bagi Supardi adalah masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Tempat hidup dan mengabdi. Tempat cita cita disemai, dipupuk dan suatu saat memanen asa tersebut.

Di Pasa Pabukoan yang legendaris itu, tidak sedikit pedagang dan pengunjung yang kaget ketika dihampiri Supardi.

"Eeee Pak Supardi,singgah lah dulu pak, boli pabukoan kami(Pak Supardi, mampir dulu pak, beli takjil kami," ungkap salah satu pedagang sambil menyambut tangan Supardi dengan hangat untuk bersalaman.

Sementara itu, dua orang anak gadis tak jauh dari tempat itu berbisik.

"Bapoto wak jo Pak Supardi lu lah, apak tu dikampuang wak beliau banyak maagiah bantuan jawi(Berfoto kita dulu dengan Pak Supardi, di kampung kita, beliau banyak memberi bantuan sapi," katanya setengah berbisik.

Di tengah keramaian sore itu, Supardi sambil berkelakar dengan pedagang, mengimbau pedagang untuk tidak mencampur makanan yang dijual dengan zat pengawet dan pemanis yang berbahaya bagi kesehatan.

"Kan lai pakai gulo cindua ko ni? Jan campua lo jo pemanis buatan atau pewarna," ungkap Supardinext

Komentar