60 Persen Bongkar Muat di Teluk Bayur masih dari CPO

Ekonomi- 21-11-2024 14:49
Junior Manager Komersial PT Pelindo Regional II Teluk Bayur, Anindito bersama jajarannya saat bincang-bincang dengan sejumlah media di Padang,  Kamis (21/11/2024). (dok : arunala.com)
Junior Manager Komersial PT Pelindo Regional II Teluk Bayur, Anindito bersama jajarannya saat bincang-bincang dengan sejumlah media di Padang, Kamis (21/11/2024). (dok : arunala.com)

Padang, Arunala.com - Aktifitas bongkar muat di Pelabuhan Teluk Bayur sejak awal Januari hingga September 2024 alami peningkatan dari sisi bongkar muat.

Adanya trend positit di PT Pelabuhan Indonesia Regional II Teluk Bayur itu diungkapkan Junior Manager Komersialnya, Anindito bersama jajarannya kepada arunala.com saat temu media di Padang, Kamis (21/11/2024).

"Sepanjang Januari hingga September 2024 ini, secara totally arus bongkar muat di Teluk Bayur di semua komoditi curah mencapai 5,2 juta ton. Jumlah itu melebihi target yang pernah diprediksi sebanyak 5 juta ton," kata Dito.

Dari semua komoditi itu, Dito menyampaikan, produk crude palm oli (CPO) yang mencapai 60 persen, baru setelah itu cangkang, batu bara, semen, customer goods (kebutuhan rumah tangga) dan produk lainnya.

Dia menambahkan, peningkatan bongkar muat juga terjadi pada sisi peti kemas.

"Terhitung Januari hingga September 2024, sudah mencapai 74 ribu teus, sedangkan pada 2023 lalu jumlahnya sekitar 7 ribu teus. Jadi ada kenaikan sekitar 4 ribu teus dibanding pada periode yang sama di tahun 2023 kemarin," tukas Dito.

Dito memperkirakan, naiknya arus bongkar muat melalui peti kemas karena banyaknya permintaan kebutuhan pokok. Sedangkan impor kebanyakan barang customer goods.

Kemudian ditanya apakah bongkar muat batu bara di Teluk Bayur alami penurunan akhir-akhir ini?

Dito menjawab, untuk batu bara masih ada aktivitas bongkar muatnya, hanya saja soal regulasinya tinggi dan konsumennya pun tertentu.

"Beda dengan bongkar muat CPO, karena produk ini konsumsi umum misalnya untuk bahan baku minyak goreng dan bahan kebutuhan lainnya untuk rumah tangga, sedangkan ekspor masih dipengaruhi semen," terangnya.

Sementara Asisten Manager Komersial, Willy menambahkan, mengutip penjelasan Plt Gubernur Sumbar Audy Joinaldy bahwa Sumbar memang bukan daerah industri seperti yang di pulau Jawa.

"Tapi walaupun bukan daerah industri, namun uang masuk ke Sumbar banyak, cuma uang masuk itu tidak berputar seperti di tempat-tempat lain. Uang masuk itu lebih banyak dipakai untuk konsumtif, yang berputar di masyarakat sendiri tidak begitu signifikan," kata Willy. (*)

Komentar