Di Balik Sentuhan Layar Ada Bank Nagari yang Menjaga

Ekonomi- 16-04-2026 15:15
Seorang nasabah tampak mengakses layanan digital Ollin by Bank Nagari melalui ponsel pintarnya. Sebagai bank kebanggaan masyarakat Sumatera Barat, Bank Nagari terus menghadirkan kemudahan transaksi sekaligus memastikan keamanan data nasabah tetap terjaga dengan sistem perlindungan yang andal. IST
Seorang nasabah tampak mengakses layanan digital Ollin by Bank Nagari melalui ponsel pintarnya. Sebagai bank kebanggaan masyarakat Sumatera Barat, Bank Nagari terus menghadirkan kemudahan transaksi sekaligus memastikan keamanan data nasabah tetap terjaga dengan sistem perlindungan yang andal. IST

Di Bank Nagari, perubahan ini tercermin jelas dalam angka. Sepanjang tahun 2025, pengguna super apps Ollin by Nagari mencapai lebih dari 336 ribu orang. Angka itu melonjak lebih dari 57 persen dibanding tahun sebelumnya. Layanan lain seperti Nagari Portal Payment mencatatkan pertumbuhan yang impresif sebesar 153,08 persen dengan total 4.639 pengguna, meningkat tajam dari angka tahun 2024.

Nagari Cash Management telah merangkul 47.932 pengguna atau tumbuh 17,35 persen. Nagari Digital Masjid kini telah digunakan oleh 5.277 pengguna, tumbuh 14,42 persen dari tahun lalu. Sementara Nagari Card yang mempermudah akses jalan tol dan layanan bandara kini memiliki 36.817 pengguna, meningkat 37,40 persen. Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Ia adalah representasi dari perubahan perilaku, perubahan kebiasaan, dan yang paling penting, peningkatan kepercayaan. Namun kepercayaan selalu datang dengan konsekuensi.

Dunia Siber, Arena Tanpa Panggung

Semakin banyak orang yang bertransaksi secara digital, semakin besar pula risiko yang mengintai. Dunia siber bukan ruang yang sepenuhnya aman. Ia lebih menyerupai arena yang mempertemukan dua pihak yang terus berkejaran. Attacker dan defender. "Sekarang serangan itu masif. Bukan cuma sektor keuangan. Semua sektor kena. Pemerintahan, kesehatan, pendidikan," kata alumni Universitas Teknokrat Lampung ini.

Namun sektor keuangan tetap menjadi target utama. Alasannya sederhana dan nyaris klise, di situlah uang berada. Para pelaku kejahatan siber tidak lagi bekerja secara manual. Mereka menggunakan sistem otomatis, memanfaatkan celah kecil yang sering kali tidak disadari. Pelaku kejahatan siber menggunakan berbagai metode yang terus berkembang untuk mencoba mengakses sistem.

Di sisi lain, tim seperti Radytia harus memastikan setiap percobaan itu berhenti sebelum benar-benar menjadi ancaman. Pekerjaan mereka tidak selalu terlihat dramatis. Tidak ada sirene, tidak ada lampu merah menyala seperti di film-film. Sebagian besar waktu mereka dihabiskan di depan layar, memantau sistem, melakukan pemantauan dan analisis sistem secara berkelanjutan.

Namun ada satu istilah yang cukup menggambarkan aktivitas mereka. Patroli siber. "Patroli itu bukan cuma di jalanan. Kami juga patroli di dunia siber. Bahkan sampai ke dark web," tutur Radytia.

Beberapa ancaman siber berkembang di ruang digital yang kompleks dan membutuhkan pendekatan pengamanan yang adaptif.Dalam beberapa kesempatan, tim menemukan indikasi potensi risiko keamanan digital yang perlu segera ditindaklanjuti sebagai bagian dari upaya pencegahan.Situasi seperti itu tidak memberi ruang untuk menunggu. Akses harus segera dinonaktifkan. Koordinasi harus dilakukan. Nasabah harus dihubungi. Semua berlangsung cepat, dalam satu alur yang sudah terlatih. Di titik ini, jelas keamanan siber bukan hanya soal teknologi. Ia adalah soal kerja timnext

Komentar