.
Karena itu, Bank Nagari secara rutin melakukan edukasi ke berbagai kelompok masyarakat. Nasabah individu, ASN, UMKM, hingga bendahara instansi pemerintah. Edukasi tentang pengamanan data pribadi, cara mengenali penipuan digital, dan pola serangan terbaru menjadi materi wajib. "Kami ingin nasabah menjadi bagian dari pertahanan, bukan justru celahnya," ujar Roni.
Baginya, ekosistem digital yang sehat hanya bisa dibangun jika bank dan nasabah berjalan bersama. "Setiap nasabah berhak merasa aman saat membuka aplikasi Ollin, saat mentransfer dana, atau saat menerima notifikasi transaksi. Itu tugas kami untuk menjaganya. Tapi nasabah juga harus memastikan dirinya tidak memberi peluang sekecil apa pun kepada pelaku kejahatan digital," jelasnya.
Pandangan ini sejalan dengan apa yang disampaikan Mardoni, S.T, M.Kom, pengamat IT dari Politeknik Negeri Padang. Akselerasi digital perbankan dalam lima tahun terakhir tidak hanya menuntut inovasi layanan, tetapi juga kualitas pertahanan siber yang semakin matang. Bank daerah seperti Bank Nagari kini berada pada posisi strategis, karena menjadi tulang punggung transaksi masyarakat dan lembaga pemerintahan. "Ketergantungan digital meningkat sangat cepat. Tapi itu berarti ancaman juga bertambah cepat," katanya.
Menurut Mardoni, lanskap ancaman siber saat ini tidak lagi sederhana. Serangan dapat datang dari aktor individu, kelompok kriminal terorganisasi, hingga mesin otomatis berbasis botnet yang bekerja selama 24 jam. Satu celah kecil saja dapat dimanfaatkan untuk menembus sistem. "Di era sekarang, keamanan bukan lagi soal membangun tembok. Kemampuan mendeteksi, merespons, dan memulihkan dalam hitungan menit," ujarnya.
Ia memuji langkah Bank Nagari yang tidak hanya memperkuat infrastruktur digital, tetapi juga membangun struktur respons insiden melalui TTIS. Menurutnya, hal ini menunjukkan bank tidak lagi menunggu serangan terjadi, melainkan bersiap menghadapi berbagai skenario. "Banyak institusi belum sampai tahap ini. Mereka kuat di teknologi, tapi lemah di proses dan koordinasi. Bank Nagari sudah menuju ke pendekatan holistik," ucapnya.
Namun Mardoni juga mengingatkan keberhasilan pertahanan digital tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau tim internal. Salah satu faktor yang paling menentukan adalah literasi digital masyarakat. "Kesadaran pengguna adalah lapisan pertahanan pertama. Bank bisa pasang firewall setinggi apa pun, tapi jika nasabah tertipu tautan phishing, yang rugi tetap sama. Maka edukasi harus berjalan terus-menerus," saran alumni UPI YPTK ininext


Komentar