Karena itu, edukasi menjadi bagian penting dari pekerjaannya. Tidak hanya di kantor, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Saat Lebaran, ia bahkan sempat mengumpulkan keluarga besarnya.
Ia menjelaskan tentang phishing. Jangan klik tautan aneh. Jangan gunakan password sama untuk semua aplikasi. Jangan percaya penelepon yang mengaku dari bank. "Keluarga itu frontline awareness pertama. Kalau mereka saja tidak paham, bagaimana masyarakat luas?," sebutnya.
Transformasi yang Tidak Bisa Ditawar
Di sisi manajemen, komitmen terhadap keamanan ini juga terlihat jelas. Direktur Utama Bank Nagari, Gusti Candra, memandang perjalanan digitalisasi bank sebagai "perjalanan panjang yang tidak mengenal garis akhir." Baginya, transformasi bukan hanya soal aplikasi yang semakin cepat atau tampilan yang semakin modern, melainkan bagaimana Bank Nagari mampu menghadirkan rasa aman dalam setiap prosesnya. "Rasa percaya itu dibangun dari keamanan. Dan keamanan tidak boleh pernah kendor," ujarnya.
Ia menegaskan setiap pembaruan fitur di Ollin by Nagari maupun layanan digital Bank Nagari lainnya, setiap integrasi sistem, dan setiap inovasi layanan selalu harus melewati satu pintu utama, keamanan siber. "Digitalisasi tanpa keamanan sama saja membuka pintu tanpa penjaga. Kita tidak ingin itu terjadi," tegas Dirut.
Gusti menyadari tanggung jawab Bank Nagari tidak hanya berhenti pada membangun sistem yang kuat. Ia juga memastikan para penjaga sistem itu insinyur, analis, hingga tim siber seperti Radytia memiliki ruang dan dukungan untuk terus berkembang. "Investasi terbesar kami bukan teknologi, tetapi manusia yang merawat teknologi itu," katanya.
Di tengah pesatnya perkembangan transaksi digital di Sumatera Barat, Gusti melihat satu hal yang harus terus dipastikan, masyarakat merasa aman untuk bertransaksi. "Kepercayaan nasabah adalah aset kami yang paling berharga. Kalau itu hilang, teknologi sehebat apa pun tidak ada artinya," sebutnya.
Sementara itu, Direktur Keuangan Bank Nagari, Roni Edrian, menekankan sistem keamanan hanya akan efektif jika perilaku penggunanya juga aman. "Keamanan itu tiga lapis yakni sistem, petugas, dan nasabah. Kalau salah satunya lemah, semua ikut berisiko," ujarnya.
Ia melihat mayoritas insiden keamanan berasal dari kelengahan pengguna mulai dari klik tautan phishing hingga membagi kode OTP tanpa sadar. "Teknologi bisa kami perkuat, tapi perilaku pengguna harus bersama-sama dibenahi," tegasnyanext


Komentar